Amerika Serikat Melonggarkan Sanksi Iran di Tengah Gejolak Perang: Sebuah Ironi?
Bayangkan begini, di tengah berkecamuknya perang, Amerika Serikat justru mengambil langkah yang agak mengejutkan: melonggarkan sanksi terhadap minyak Iran. Kedengarannya seperti plot film yang penuh ironi, kan? Tujuannya jelas, meredam harga energi yang melonjak tinggi akibat konflik yang sedang berlangsung. Langkah ini bisa jadi angin segar bagi Iran, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar tentang strategi AS.
Menteri Keuangan Scott Bessent mengumumkan bahwa pelonggaran sanksi ini akan "terukur" dan hanya bersifat sementara. Sanksi itu sendiri awalnya diberlakukan setelah revolusi Iran tahun 1979. Jadi, apa sebenarnya yang berubah? Menurut Bessent, pelonggaran ini memungkinkan penjualan minyak Iran yang saat ini "terdampar" di laut.
"Dengan membuka pasokan yang ada ini sementara waktu, Amerika Serikat akan dengan cepat membawa sekitar 140 juta barel minyak ke pasar global," ujar Bessent. Tujuannya mulia, yaitu meningkatkan pasokan energi dunia dan mengurangi tekanan sementara pada pasokan akibat perang.
Apa Dampaknya Bagi Pasar Minyak?
Tahukah kamu kalau sekitar 20% minyak yang dikonsumsi dunia setiap hari melewati Selat Hormuz? Selat ini membentang di sepanjang pantai Iran. Nah, sejak perang dimulai di akhir Februari, pengiriman di selat tersebut praktis terhenti. Akibatnya, harga gas eceran di AS melonjak tajam, dan harga minyak mentah AS juga naik lebih dari 70% sejak awal tahun. Sebuah kombinasi yang tidak menguntungkan, bukan?
Jika dihitung dengan harga saat ini, 140 juta barel minyak yang akan dilepas ke pasar bisa bernilai lebih dari $14 miliar untuk Iran. Sebuah angka yang cukup signifikan.
Kritik dan Kekhawatiran
Namun, keputusan ini tidak luput dari kritik. Beberapa ahli berpendapat bahwa pelonggaran sanksi ini justru menunjukkan kurangnya perencanaan strategis dan mungkin tidak akan memberikan perbedaan yang signifikan terhadap tekanan ekonomi yang lebih luas.
Danny Citrinowicz, seorang peneliti senior tentang Iran di Institute for National Security Studies, bahkan mengatakan bahwa "AS mendanai perang melawan dirinya sendiri." Menurutnya, kampanye ini cacat, bukan dari segi ukuran operasional, tetapi dari persiapan strategisnya. "Harga minyak menjadi jauh lebih penting daripada melenyapkan rezim di Iran," tambahnya. Sebuah pernyataan yang cukup keras, ya?
Moritz Brake, seorang peneliti senior di Center for Advanced Security, Strategic and Integration Studies, juga senada. Ia mengatakan bahwa keputusan melonggarkan sanksi mengindikasikan "peremehan seberapa baik Iran dapat menahan serangan dan dampak pada ekonomi global."
Upaya Lain untuk Meredam Harga
Sebenarnya, AS sudah melakukan upaya lain untuk meningkatkan pasokan, termasuk melepaskan jutaan barel cadangan minyak, sebagai bagian dari upaya global dari negara-negara anggota International Energy Agency. Selain itu, pemerintah juga telah mencabut Jones Act dan melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia untuk sementara waktu. Tampaknya, semua opsi sedang dipertimbangkan.
Dampak Ganda Perang Iran pada Perang Ukraina
Brake menyoroti bahwa perang di Iran memiliki "efek ganda" pada perang Rusia di Ukraina. Di satu sisi, serangan drone di Ukraina menurun karena drone Iran tidak lagi dikirim ke Rusia. Namun, di sisi lain, "mesin perang Rusia didanai dengan uang tambahan karena kenaikan harga minyak dan pencabutan sanksi." Dilema yang rumit, ya?
Sentimen Pasar dan Dampak pada Industri Penerbangan
Berita tentang perang di Iran membebani sentimen pasar. Harga minyak terus naik, dengan minyak internasional (Brent) diperdagangkan di sekitar $111, mengakhiri minggu dengan kenaikan 8,3% dan 84% untuk tahun ini.
CEO United Airlines, Scott Kirby, bahkan mengirim email kepada karyawan bahwa perusahaan akan membatalkan beberapa penerbangan sebagai persiapan menghadapi harga minyak yang lebih tinggi akibat perang dengan Iran. Mereka memperkirakan harga minyak akan mencapai $175 per barel dan tidak akan turun kembali ke $100 per barel hingga akhir 2027.
Kirby menjelaskan bahwa beberapa penerbangan yang kurang menguntungkan diperkirakan akan dipangkas dalam jangka pendek karena harga minyak, seperti penerbangan di luar jam sibuk dan penerbangan malam. Menurutnya, jika harga minyak tetap pada level ini, biaya tambahan untuk bahan bakar jet saja akan mencapai $11 miliar per tahun. Sebagai perbandingan, laba United di tahun terbaiknya kurang dari $5 miliar. Sebuah pukulan yang berat, bukan?
Pandangan Pesimis
Citrinowicz menyimpulkan bahwa langkah-langkah untuk melonggarkan sanksi kemungkinan tidak akan mengubah realitas ekonomi. "Semua orang tahu bahwa selama Iran mengendalikan selat, tidak ada yang akan berubah dalam hal kemampuan untuk mengeluarkan minyak," katanya. "Kamu tidak bisa mengalahkan geografi." Mungkin ada benarnya juga.
Tentu saja, platform trading seperti Broker InstaForex bisa memberikan akses ke pasar komoditas yang dinamis seperti minyak, memungkinkan trader untuk mengambil posisi berdasarkan pergerakan harga yang terjadi akibat peristiwa geopolitik seperti ini. Jadi, bagaimana menurutmu? Apakah pelonggaran sanksi ini akan efektif meredam harga minyak, atau justru menjadi bumerang bagi AS?