Bitcoin Terjun Bebas: Apa yang Terjadi dan Kenapa Investor Panik?
Bitcoin lagi nggak baik-baik aja nih. Harganya terjun bebas, bahkan sempat menyentuh level terendah sejak Oktober tahun lalu, di bawah $64,000. Penurunan lebih dari 12% dalam satu hari itu jelas bikin investor deg-degan. Ini jadi pengingat yang cukup keras, betapa rentannya aset kripto saat sentimen pasar berubah jadi risk-off.
Bayangin aja, akhir tahun lalu Bitcoin sempat meroket sampai rekor tertinggi di atas $125,000. Tapi, dalam empat bulan terakhir, nilainya udah nyaris separuh. Nggak main-main, dari puncaknya di 6 Oktober, Bitcoin udah kehilangan lebih dari $1.2 triliun nilai pasar, menurut data dari CoinMarketCap.
Lari ke Aset Aman?
Kenapa bisa begini? Sederhananya, investor lagi pada kabur dari aset-aset berisiko, kayak kripto dan saham teknologi. Mereka lebih milih masuk ke aset-aset "safe haven" tradisional, seperti emas. Coba deh lihat perbandingan performa Bitcoin dan emas sejak Oktober. Jomplang banget!
Nilai Bitcoin udah turun 35% sejak Februari tahun ini, sementara emas justru meroket hampir 70%. Bahkan, khusus tahun ini aja, emas udah naik lebih dari 11%, sementara Bitcoin malah merosot lebih dari 26%. Beda jauh, kan?
Nggak cuma kripto yang kena imbas. Dolar AS juga ikut merasakan tekanan dari investor yang mulai mikir-mikir lagi mau parkirin duitnya di mana. Tekanan buat dolar ini muncul karena ancaman perang dagang dan tarif baru dari pemerintahan Trump, plus ketidakpastian akibat ketegangan dengan sekutu AS soal Greenland, protes di Iran, dan penangkapan presiden Venezuela di awal Januari. Kompleks banget ya situasinya?
Saat mereka keluar dari kripto, investor cari aman di obligasi pemerintah, saham Eropa dan Asia, serta logam mulia seperti perak dan emas. Nah, untuk melakukan diversifikasi aset seperti ini, kita bisa memanfaatkan platform trading online, contohnya Broker InstaForex, yang menyediakan akses ke berbagai instrumen investasi.
Efek Domino ke Industri Kripto
Penurunan Bitcoin ini bukan cuma masalah buat pemilik Bitcoin aja. Ini juga bikin industri kripto secara keseluruhan ikutan was-was. Bitcoin kan selama ini digadang-gadang sebagai "emas digital," aset kripto paling reliable yang bisa mempertahankan nilainya di masa-masa sulit, mirip kayak emas fisik.
Analis di Citi bahkan nulis catatan ke klien minggu ini, bilang kalau aliran dana ke ETF Bitcoin udah seret banget seiring dengan penurunan harga. Padahal, investasi ini yang dulu jadi bahan bakar buat kenaikan harga Bitcoin tahun lalu. Mereka juga nunjukkin kalau harga Bitcoin sekarang udah di bawah harga rata-rata masuk investor ETF Bitcoin spot di AS, yang mereka perkirakan sekitar $81,600. Lumayan juga ya selisihnya?
Perusahaan dan investor yang dulu jor-joran masuk Bitcoin juga lagi gigit jari. Contohnya, saham MicroStrategy, pemegang Bitcoin terbesar di dunia korporasi, anjlok lebih dari 17% saat Bitcoin jebol di bawah harga rata-rata pembelian mereka.
MicroStrategy udah bertahun-tahun ngumpulin Bitcoin dan sekarang punya lebih dari 713,000 koin, dengan harga rata-rata sekitar $76,000 per Bitcoin, menurut laporan keuangan terakhir mereka. Nah, karena harga Bitcoin sekarang jauh di bawah itu, investor jadi khawatir, masih ada ruang buat kerugian lebih dalam nggak ya?
Tekanan ini menjalar ke seluruh ekosistem kripto, nyentuh bisnis-bisnis yang erat kaitannya dengan trading dan harga kripto. Saham Coinbase, salah satu exchange kripto terbesar di AS, ikut-ikutan turun. Begitu juga Circle, perusahaan keuangan yang fokus di kripto dan penerbit stablecoin, serta platform trading ritel Robinhood.
Death Spiral?
Michael Burry, investor yang dulu masang short di pasar perumahan sebelum krisis keuangan 2008 dan jadi tokoh di film "The Big Short," bilang kalau penurunan Bitcoin ini bikin skenario-skenario yang mengerikan jadi mungkin terjadi. Dia juga ngasih peringatan di Substack, kalau aksi jual Bitcoin ini bisa berubah jadi "death spiral." Ngeri juga ya istilahnya?
Kebijakan The Fed Juga Berpengaruh
Penunjukan Kevin Warsh, mantan gubernur The Fed, sebagai calon ketua Federal Reserve pilihan Trump juga memicu perubahan di pasar aset. Meskipun Trump ngotot kalau calon ketua The Fed pilihannya harus mendukung suku bunga rendah, Warsh justru dikenal punya rekam jejak yang lebih keras soal inflasi dibanding kandidat lain pilihan Trump.
Pasar juga bertaruh kalau Warsh nggak bakal buru-buru nge-boost pasar dengan pemangkasan suku bunga. Suku bunga yang lebih tinggi dan modal yang nggak terlalu likuid biasanya bikin investor lebih susah buat nahan taruhan berisiko tinggi kayak kripto.
Menteri Keuangan Scott Bessent minggu ini juga bilang kalau pemerintah AS nggak punya kekuatan buat turun tangan dan nyelamatin kripto kalau terjadi crash. Ini jelas ngecilin harapan buat ada bantuan, bahkan dari pemerintahan yang selama ini lumayan nerima kripto.
Regulasi Kripto Masih Belum Jelas
Meskipun ada sinyal positif dari Gedung Putih, kripto masih berjuang buat dapetin aturan yang jelas untuk mengatur pasarnya di Kongres. "Meskipun ada kemajuan soal legislasi kripto, tapi jalannya lambat dan nggak merata," tulis analis Citi.
Beberapa bulan terakhir, anggota parlemen udah ngajuin beberapa rancangan undang-undang terkait kripto, termasuk upaya buat memperjelas gimana aset digital diatur dan gimana stablecoin harus diawasi. Tapi, aturan yang lebih luas soal struktur pasar, yang dianggap penting buat ngasih kepastian lebih ke sektor ini, masih mandek di Kongres.
Akibatnya, beberapa investor masih bearish soal Bitcoin, bahkan kalau aturan yang lebih jelas akhirnya disahkan. "Bahkan kalau kejelasan regulasi disahkan, banyak investor mungkin masih hati-hati buat naruh duit di aset yang volatil kayak gini," tulis Louis Navellier, manajer investasi dan ahli strategi pasar di Navellier & Associates, hari Rabu lalu.
Jadi, gimana menurut kamu? Apakah Bitcoin bakal bangkit lagi, atau ini awal dari akhir era kripto? Yang jelas, situasi pasar saat ini nunjukkin kalau diversifikasi investasi itu penting, dan platform seperti Broker InstaForex bisa bantu kita buat ngakses berbagai pilihan aset selain kripto.