Dompet Makin Tipis: Kenaikan Gaji Melambat, Harga-Harga Meroket
Kabar baiknya, kita masih dapat gaji. Kabar buruknya, kenaikan gaji kok rasanya makin kecil ya? Sementara itu, harga bensin dan kebutuhan pokok lainnya malah makin bikin dompet menjerit. Jadi, gimana dong ini?
Data terbaru menunjukkan kalau pekerja non-manajerial di Amerika Serikat hanya mengalami kenaikan gaji rata-rata 3,4% per jam dalam setahun terakhir. Ini adalah laju pertumbuhan gaji terlemah sejak 2021. Dulu, dua tahun belakangan, kenaikan gaji bisa mendekati angka 4%. Agak ngeri, kan?
Nah, perlambatan ini terjadi di saat para ekonom lagi was-was banget soal inflasi. Konflik di Timur Tengah, misalnya, bikin harga minyak melonjak dan harga bensin ikutan naik gila-gilaan. Bayangkan saja, dalam sebulan, harga bensin bisa naik lebih dari satu dolar per galon!
Bukan cuma harga bensin, biaya transportasi juga ikutan naik. Ini karena harga solar juga ikutan meroket. Amazon, misalnya, sampai mengenakan biaya tambahan "bahan bakar dan logistik" sebesar 3,5% ke penjual mulai pertengahan April. Maskapai penerbangan juga ikutan pusing. Mereka menaikkan biaya bagasi demi menutupi biaya bahan bakar jet yang melambung tinggi. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) bahkan bilang kalau harga bahan bakar jet naik 104% dalam sebulan! Gila, kan?
David Royal, seorang petinggi di Thrivent, bilang kalau kenaikan inflasi yang dipicu oleh harga energi ini bisa bikin pertumbuhan gaji riil makin melambat. Akibatnya, konsumen bakal makin tertekan.
Inflasi Mengancam Daya Beli
Untungnya, saat ini kenaikan gaji masih lebih tinggi dari kenaikan harga barang-barang di toko. Gaji naik 3,4%, sementara inflasi 2,4%. Kenaikan gaji pekerja non-manajerial memang sudah lebih tinggi dari kenaikan harga sejak Maret 2023. Tapi, situasinya bisa berubah sewaktu-waktu.
Heather Long, seorang ekonom, memperkirakan inflasi bisa mencapai 4% bulan ini karena lonjakan harga minyak. Nah, kalau inflasi 4%, sementara kenaikan gaji cuma 3,4%, bayangkan betapa tertekannya para pekerja, terutama yang berpenghasilan menengah ke bawah.
Bukan Cuma Bensin dan Belanjaan
Tanda-tanda bahaya ini nggak cuma terasa di pom bensin atau supermarket. Suku bunga KPR yang makin tinggi juga bikin banyak orang makin susah buat beli rumah.
Rata-rata suku bunga KPR fixed 30 tahun naik dari 5,99% jadi 6,45% dalam beberapa waktu. Salah satu penyebabnya adalah kekhawatiran kalau Bank Sentral (The Fed) harus menaikkan suku bunga lagi buat meredam inflasi yang dipicu oleh konflik.
Orphe Divounguy, seorang ekonom senior, khawatir kalau pertumbuhan lapangan kerja melambat dan ketidakpastian meningkat, banyak keluarga (terutama yang masih ngontrak atau baru mau beli rumah) bakal makin hati-hati. Soalnya, gaji yang sudah disesuaikan dengan inflasi jadi makin kecil, dan daya beli juga ikutan menurun.
Kalau gaji nggak bisa mengejar kenaikan harga, ya jelas masalah daya beli bakal makin parah. Survei bahkan menunjukkan kalau inflasi dan biaya hidup adalah masalah paling penting bagi banyak orang.
Harus Gimana Dong?
Ketua The Fed, Jerome Powell, juga mengakui kalau kenaikan gaji riil (gaji yang sudah disesuaikan dengan inflasi) harus positif supaya masyarakat merasa lebih baik soal daya beli. Beliau bilang butuh waktu bertahun-tahun supaya masyarakat merasa nyaman lagi.
Buat kamu yang bergelut di dunia trading atau investasi, situasi seperti ini bisa jadi momentum untuk mengamati pergerakan pasar. Fluktuasi harga komoditas seperti minyak, misalnya, bisa memberikan peluang trading jangka pendek. Platform seperti Broker InstaForex menyediakan akses ke pasar-pasar tersebut, sehingga kamu bisa mencoba memanfaatkan peluang yang ada. Tentu saja, ingat selalu untuk melakukan riset dan analisis yang mendalam sebelum mengambil keputusan investasi ya.
Jadi, intinya, kita harus pintar-pintar mengatur keuangan di tengah situasi yang serba nggak pasti ini. Cari peluang untuk meningkatkan pendapatan, kurangi pengeluaran yang nggak perlu, dan pantau terus perkembangan ekonomi. Semoga dompet kita tetap aman!