Gawat! Parlemen Eropa Tahan Ratifikasi Kesepakatan Dagang dengan AS, Ada Apa?

Wah, berita kurang mengenakkan datang dari Eropa dan Amerika Serikat. Parlemen Eropa memutuskan untuk menunda proses ratifikasi kesepakatan dagang besar-besaran dengan AS. Lho, kenapa bisa begitu? Rupanya, ini semua efek domino dari keputusan Mahkamah Agung yang membatalkan sebagian besar tarif yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump.

Bayangkan, para anggota parlemen di Brussels itu sampai mengadakan pertemuan darurat segala. Ketua komite perdagangan parlemen, Bernd Lange, bilang kalau pihak AS sekarang "sangat tidak pasti". Bingung kan? Ya, mereka juga. "Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi... dan tidak jelas apakah akan ada langkah-langkah tambahan atau bagaimana Amerika Serikat benar-benar akan menjamin" komitmen mereka terhadap perjanjian itu, jelas Lange. Waduh.

Masalahnya, di saat yang sama, Trump malah asyik main media sosial dan mengancam "negara mana pun yang ingin 'bermain-main' dengan keputusan konyol mahkamah agung". Katanya, negara-negara itu bisa saja dihantam "dengan tarif yang jauh lebih tinggi". Serem! Bahkan, di akhir postingannya, Trump menambahkan "BUYER BEWARE!!!" dengan huruf kapital semua. Ngeri, kan?

Ketidakpastian ini, ditambah lagi ancaman-ancaman Trump, langsung bikin pasar saham AS berguncang. Dow Jones langsung anjlok lebih dari 820 poin, atau sekitar 1,66%. S&P 500 juga ikut merosot 1,04%, dan Nasdaq Composite turun 1,13%. Bahkan, Russell 2000, yang isinya perusahaan-perusahaan menengah dan kecil, ikut meluncur 1,63%. Eropa juga kena imbasnya. Indeks Stoxx 600 Eropa juga ikut turun 0,4%. Bisa dibilang, hampir semua indeks utama di Inggris, Prancis, Jerman, Irlandia, Belgia, dan Swedia pada akhirnya mencatatkan kerugian.

Sebenarnya, Apa Isi Kesepakatan Dagang Ini?

Jadi, kesepakatan yang dicapai antara Trump dan Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, pada bulan Juli lalu itu sebenarnya bertujuan untuk menghilangkan apa yang disebut Gedung Putih sebagai "hambatan perdagangan" di berbagai sektor bagi eksportir Amerika. Pemerintah AS bahkan menyebut kesepakatan itu sebagai "modernisasi aliansi transatlantik lintas generasi". Keren kan kedengarannya?

Buat Uni Eropa sendiri, von der Leyen bilang kalau kesepakatan itu menciptakan "kepastian di masa yang tidak pasti" dan menawarkan "stabilitas dan prediktabilitas, bagi warga dan bisnis di kedua sisi Atlantik". Intinya, kesepakatan itu membatasi sebagian besar tarif AS atas impor dari Uni Eropa maksimal 15% dan memangkas tarif menjadi 0% untuk pesawat terbang dan suku cadang, obat-obatan generik, peralatan semikonduktor, beberapa produk pertanian, dan beberapa bahan mentah penting yang tidak tersedia di AS.

Kenapa Sekarang Jadi Begini?

Nah, masalahnya, kesepakatan ini mulai tersendat sejak musim panas lalu, karena parlemen blok tersebut masih berupaya untuk mengimplementasikan bagian Uni Eropa-nya. Selain itu, AS juga memperluas tarif logamnya ke ratusan produk tambahan tahun lalu. Jadi, nggak heran kalau parlemen Eropa jadi ragu. Ibaratnya, kita sudah mau jabat tangan, eh, malah dikasih pukulan.

Bahkan, sempat juga Trump bilang mau mengenakan tarif tambahan ke delapan negara Eropa kalau dia tidak bisa menguasai Greenland. Serius, Greenland?! Kontan saja, Parlemen Eropa langsung menghentikan sementara ratifikasi kesepakatan dagang untuk pertama kalinya. "Dengan mengancam integritas teritorial dan kedaulatan negara anggota Uni Eropa dan dengan menggunakan tarif sebagai instrumen pemaksaan, AS merusak stabilitas dan prediktabilitas hubungan perdagangan Uni Eropa-AS," kata Lange, ketua komite perdagangan internasional parlemen.

Memang sih, setelah mendapat tekanan dari Inggris, Uni Eropa, dan negara-negara anggotanya, Trump akhirnya mundur dari ancamannya soal tarif Greenland. Tapi, tetap saja, para anggota parlemen masih skeptis dengan rencana-rencana Trump. Makanya, mereka memutuskan untuk menunda dulu pekerjaan soal kesepakatan itu selama beberapa minggu.

"AS perlu memberi tahu kami dengan tepat apa yang sedang terjadi," kata juru bicara perdagangan Uni Eropa, Olof Gill, sebelum pengumuman parlemen. Dia menambahkan bahwa jawaban dari pemerintahan Trump sejauh ini belum memuaskan pertanyaan blok tersebut. "Ada keterlibatan yang sedang berlangsung dengan AS, tetapi ada lebih banyak yang dibutuhkan," katanya.

Dampaknya ke Mana Saja?

Keadaan ini jelas bikin semua pihak was-was. China, misalnya, juga ikut-ikutan mencari informasi lebih lanjut dan melakukan peninjauan atas putusan pengadilan. China bahkan mendesak AS untuk sepenuhnya membatalkan tarifnya. Sementara itu, negosiator perdagangan dari India juga dilaporkan membatalkan perjalanan yang direncanakan ke Washington untuk membahas kesepakatan dagang yang tertunda.

Beberapa jam setelah keputusan pengadilan keluar, Trump menandatangani perintah eksekutif yang menerapkan "tarif global" 10% berdasarkan undang-undang yang tidak terpengaruh oleh putusan pengadilan tinggi. Keesokan harinya, Trump mengatakan dia menaikkan tarif itu menjadi 15%, meskipun perintah eksekutif yang diperbarui belum dirilis oleh Gedung Putih. Pusing, kan?

Yang jelas, bea masuk yang biasanya terutang berdasarkan tarif yang dibatalkan oleh Mahkamah Agung akan berhenti dipungut mulai hari Selasa. Jadi, buat para pelaku pasar, terutama yang sering berurusan dengan perdagangan internasional, ini jelas jadi perhatian utama. Platform trading seperti Broker InstaForex tentu akan terus memantau perkembangan ini untuk memberikan informasi dan analisis yang relevan kepada para kliennya.

Nah, kira-kira, bagaimana kelanjutan dari drama perdagangan ini? Apakah Trump akan melunak? Atau justru semakin memperkeruh suasana? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya. Yang pasti, ketidakpastian seperti ini selalu menghadirkan tantangan tersendiri di pasar keuangan.