Gelombang Penutupan Toko Ritel Mewah: Apa yang Terjadi dengan Saks Fifth Avenue dan Neiman Marcus?

Kabar kurang sedap datang dari dunia ritel mewah. Saks Global, perusahaan induk yang menaungi nama-nama besar seperti Saks Fifth Avenue, Bergdorf Goodman, dan Neiman Marcus, sedang melakukan restrukturisasi besar-besaran akibat kebangkrutan yang mereka alami. Apa dampaknya bagi para pecinta mode dan ekonomi secara keseluruhan?

Yang jelas, kita akan melihat lebih sedikit gerai fisik Saks Fifth Avenue dan Neiman Marcus. Saks Global mengumumkan akan menutup delapan toko Saks Fifth Avenue dan satu lokasi Neiman Marcus. Toko-toko Saks Fifth Avenue yang terkena dampak berlokasi di Alabama, Ohio, New Jersey, Louisiana, Pennsylvania, Arizona, Virginia, dan Oklahoma. Sementara itu, satu-satunya gerai Neiman Marcus yang akan tutup terletak di Massachusetts. Semuanya dijadwalkan tutup pada musim semi ini.

Selain penutupan toko, perusahaan juga mengurangi secara signifikan layanan personal shopper Fifth Avenue Club. Dari yang semula 16 lokasi, kini hanya akan tersisa dua saja. Bayangkan, layanan eksklusif yang selama ini menjadi daya tarik Saks Fifth Avenue kini dipangkas habis.

Lalu, bagaimana dengan Bergdorf Goodman? Kabar baiknya, untuk saat ini, Saks mengatakan tidak ada rencana untuk mengubah operasional toko Bergdorf Goodman. Jadi, para penggemar merek ini masih bisa bernapas lega.

Ada juga perubahan di ranah online. Saks Global menutup Horchow.com dan mengalihkan penjualan perabotan rumah tangga mewah Horchow ke NeimanMarcus.com mulai 19 Februari lalu. Langkah ini jelas menunjukkan fokus perusahaan pada platform digital.

Mengapa Penutupan Ini Terjadi?

Saks Global menyebut perubahan ini sebagai "fase awal optimasi." Intinya, mereka ingin memfokuskan bisnis pada produk dan layanan mewah, serta kemitraan. Tapi, mari kita telaah lebih dalam.

Perusahaan ini mengajukan kebangkrutan Bab 11 pada 14 Januari lalu. Masalahnya berawal ketika mereka mengakuisisi Neiman Marcus pada tahun 2024. Akibatnya, mereka terlilit utang lebih dari 2,5 miliar dolar AS. Jumlah yang sangat fantastis, bukan?

Situasi diperparah dengan fakta bahwa Saks Global gagal membayar utang-utangnya baru-baru ini. Ini menjadi sinyal bahwa mereka kesulitan untuk pulih dari beban utang yang sangat besar. Kita tahu, pasar keuangan itu dinamis. Ada saatnya kita bisa memanfaatkan peluang trading atau investasi untuk diversifikasi risiko. Broker seperti InstaForex menyediakan akses ke berbagai instrumen investasi yang bisa membantu.

Saks OFF 5TH dan Last Call Juga Kena Imbas

Tidak hanya merek utama, lini off-price mereka juga terdampak. Saks Global sudah menutup sebagian besar jaringan Saks OFF 5TH. Sebanyak 23 lokasi ditutup pada 2 Februari, dan perusahaan berencana untuk menutup semua lokasi off-price kecuali 12 saja.

Selain itu, lima lokasi terakhir entitas off-brand Neiman Marcus, Last Call, juga akan ditutup. Secara total, Saks Global berencana untuk menghapus 57 toko. Angka yang cukup besar, bukan?

Apa Kata CEO?

Geoffroy van Raemdonck, CEO Saks Global, mengatakan bahwa dengan mengoptimalkan jejak operasional, perusahaan akan lebih mampu memberikan produk-produk luar biasa, pengalaman yang lebih baik, dan layanan yang sangat personal di semua saluran. Selain itu, langkah ini juga akan memposisikan perusahaan untuk melakukan investasi yang memungkinkan pertumbuhan jangka panjang dan penciptaan nilai.

Intinya, mereka ingin merampingkan operasi, fokus pada pelanggan kelas atas, dan berinvestasi pada masa depan. Strategi yang masuk akal, mengingat persaingan di dunia ritel semakin ketat.

Apa Artinya Bagi Kita?

Penutupan toko ritel mewah ini tentu saja membawa dampak. Bagi para karyawan, tentu saja ada kekhawatiran tentang kehilangan pekerjaan. Bagi para konsumen, pilihan berbelanja jadi berkurang. Bagi ekonomi, ini adalah sinyal bahwa perubahan sedang terjadi di sektor ritel.

Apakah ini akhir dari era toko ritel fisik mewah? Tentu saja tidak. Tapi, ini adalah panggilan untuk beradaptasi. Perusahaan ritel harus lebih kreatif dalam menarik pelanggan, baik secara online maupun offline. Mereka juga harus lebih efisien dalam mengelola biaya dan berinvestasi pada teknologi baru.

Kita lihat saja bagaimana Saks Global dan perusahaan ritel lainnya akan menavigasi tantangan ini. Satu hal yang pasti, lanskap ritel akan terus berubah, dan kita semua harus siap untuk menghadapinya.