Kabar Baik untuk Dompet: Inflasi Mulai Mereda?

Inflasi, momok yang menghantui dompet kita semua, ternyata menunjukkan tanda-tanda melambat. Di bulan Januari, kenaikannya hanya 0,2% dibandingkan Desember, dan secara tahunan turun menjadi 2,4%. Angka-angka ini lebih rendah dari perkiraan, memberikan sedikit angin segar bagi kita para konsumen.

Para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones sebelumnya memprediksi inflasi akan naik 0,3% di Januari, dengan perkiraan tahunan mencapai 2,5%. Jadi, bisa dibilang, realitanya sedikit lebih baik dari yang kita khawatirkan. Apalagi, belakangan ini kita memang lagi merasakan dampak dari krisis keterjangkauan, ya kan?

Pemerintahan sebelumnya pun berupaya meringankan beban dengan membatalkan tarif pada puluhan bahan makanan. Selain itu, kerangka kesepakatan dagang dengan negara-negara lain juga terus diupayakan, dengan harapan bisa menurunkan tarif secara langsung. Kita lihat saja nanti bagaimana dampaknya.

Lalu, apa saja sih yang mempengaruhi angka inflasi ini?

Faktor Pendorong dan Penekan Inflasi Januari

Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja, harga perumahan menjadi faktor terbesar yang mendorong kenaikan inflasi di bulan Januari, naik 0,2%. Begitu juga dengan kategori "makanan di rumah", yang mencakup harga-harga di supermarket. Jadi, kalau belanja bulanan terasa lebih berat, ya memang begitu kenyataannya.

Namun, ada juga kabar baiknya. Harga energi justru mengalami penurunan signifikan, yaitu sebesar 1,5%. Mungkin ini sedikit meringankan beban pengeluaran untuk transportasi atau listrik di rumah.

Inflasi inti, yang tidak memasukkan kategori-kategori yang mudah berubah seperti energi dan makanan, juga sesuai dengan perkiraan. Hal ini bisa menjadi argumen yang mendukung bahwa kebijakan penurunan suku bunga dan tindakan pemerintah mulai membuahkan hasil dalam mengendalikan inflasi, setelah sempat melonjak hingga 3% di bulan September tahun lalu.

Mungkin kamu bertanya-tanya, bagaimana dengan dampak tarif impor? Apakah benar-benar berpengaruh ke harga barang-barang yang kita beli?

Dampak Tarif Impor Mulai Terasa?

Ternyata, ada beberapa tanda bahwa tarif impor mulai berdampak pada harga barang. Harga peralatan laundry dan indeks yang melacak "peralatan lainnya" melonjak 2,6% hanya dari Desember ke Januari. Indeks lain yang naik tajam dari bulan ke bulan termasuk indeks yang melacak harga peralatan secara keseluruhan, yang naik 1,3%. Komputer naik 3,1%, penutup lantai naik 3,2%, perabot rumah tangga naik 1% dan pakaian anak laki-laki naik 2,4%. Harga jam tangan naik 2,9% dari bulan ke bulan, dan pembacaan yang melacak peralatan video dan audio, termasuk televisi, naik 2,2%.

CEO Amazon, Andy Jassy, bahkan sempat mengatakan bahwa mereka mulai melihat beberapa tarif masuk ke beberapa harga, dan beberapa penjual memutuskan untuk membebankan biaya yang lebih tinggi kepada konsumen dalam bentuk harga yang lebih tinggi.

Para ekonom dan analis percaya bahwa perusahaan mungkin mendekati akhir produk yang dihargai pra-tarif, yang dibuat atau diimpor sebelum tarif besar-besaran diberlakukan.

Tapi, jangan khawatir dulu! Tidak semua berita buruk. Harga telur, salah satu keluhan utama konsumen tahun lalu, turun lagi 7% di bulan Januari dari Desember. Harga daging sapi dan daging sapi muda, yang mengalami kenaikan selama beberapa bulan terakhir, juga turun sebesar 0,4%. Mungkin ini bisa jadi alternatif lauk yang lebih terjangkau.

Optimisme di Tengah Tantangan

Para ekonom Wells Fargo mengatakan bahwa mereka merasa lega dengan data inflasi terbaru. Mereka mengakui bahwa "kemenangan atas inflasi belum ada di depan mata," tetapi mereka juga melihat "alasan untuk optimis tentang prospek ke depan." Mereka menyoroti disinflasi dalam kategori tempat tinggal utama dan "sedikit tanda percepatan" dalam ukuran sewa sektor swasta sebagai tanda positif.

Analis Wells Fargo juga menambahkan bahwa kenaikan harga akibat tarif mungkin belum sepenuhnya tercermin dalam data, tetapi kita sudah lebih dekat ke akhir daripada awal dari sumber harga yang lebih tinggi ini.

Laporan inflasi ini muncul hanya dua hari setelah laporan pekerjaan Januari yang sempat tertunda. Laporan tersebut memang terlihat positif, tetapi ada revisi besar pada data perekrutan baru-baru ini yang memberikan gambaran yang lebih suram. Data awal menunjukkan bahwa ekonomi AS menambahkan 584.000 pekerjaan di tahun 2025. Namun, Biro Statistik Tenaga Kerja merevisi angka tersebut menjadi hanya 181.000 pekerjaan.

Bank Sentral atau The Fed selama berbulan-bulan telah menyeimbangkan dua mandatnya: harga stabil dan lapangan kerja penuh. Presiden Bank Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, mengatakan bahwa berdasarkan perkiraannya, mereka bisa saja menahan suku bunga untuk beberapa waktu. Hammack memperkirakan inflasi akan mereda seiring berjalannya waktu, tetapi saat ini, menurutnya, inflasi masih terlalu tinggi.

Dalam situasi seperti ini, penting untuk tetap memantau perkembangan ekonomi dan mengambil keputusan keuangan yang bijak. Mungkin kamu tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang investasi atau trading? Platform seperti Broker InstaForex bisa memberikan akses ke berbagai pasar, mulai dari forex, saham, hingga komoditas. Tentunya, dengan pemahaman dan strategi yang tepat, kita bisa memanfaatkan peluang yang ada di tengah fluktuasi ekonomi.