Pasar Saham AS Sempat Bergolak Akibat Keputusan Mahkamah Agung Soal Tarif Trump

Hari Jumat kemarin menjadi hari yang cukup menegangkan di pasar saham Amerika Serikat. Bagaimana tidak? Mahkamah Agung membuat keputusan yang mengatakan bahwa Presiden Donald Trump tidak bisa seenaknya mengenakan tarif besar-besaran berdasarkan International Emergency Economic Powers Act. Keputusan ini tentu saja langsung memicu reaksi yang cukup heboh di pasar.

Indeks-indeks utama langsung melonjak tajam beberapa menit setelah keputusan itu diumumkan. Tapi, setelah itu? Pasar malah jadi goyah sepanjang hari. Bayangkan, naik turunnya seperti roller coaster! Pada akhirnya, saat penutupan perdagangan, indeks Nasdaq yang didominasi sektor teknologi berhasil naik hampir 1%. Sementara itu, S&P 500, indeks yang lebih luas dan sering jadi patokan, naik hampir 0.7%. Dow Jones Industrial Average juga ikut naik, sekitar 230 poin atau 0.5%.

Nah, kalau kamu perhatikan pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS juga ikut naik di berbagai tenor. Yield obligasi 10 tahun, yang seringkali memengaruhi suku bunga KPR, naik menjadi 4.09%. Bahkan, yield obligasi 30 tahun naik di atas 4.74%. Ini tentu saja menjadi perhatian banyak orang, terutama mereka yang berencana mengambil KPR.

Dolar AS dan Emas: Reaksi yang Bertolak Belakang

Awalnya, dolar AS sempat menguat terhadap mata uang lain seperti poundsterling, euro, dan yen Jepang. Ini wajar, karena dolar yang kuat sering dianggap sebagai tanda kepercayaan investor terhadap aset dan stabilitas AS. Tapi, pada akhirnya, dolar malah melemah seiring investor mencerna keputusan Mahkamah Agung tadi.

Lalu, bagaimana dengan emas dan perak? Harganya malah naik! Ini menjadi sinyal bahwa investor sepertinya masih belum yakin bahwa perusahaan-perusahaan sudah aman dari ketidakpastian soal tarif. Maklum saja, urusan tarif ini memang bisa bikin pusing tujuh keliling.

Siapa yang Diuntungkan?

Perusahaan-perusahaan yang bisnisnya sangat bergantung pada tarif, seperti peritel dan produsen peralatan rumah tangga, langsung menjadi bintang di bursa saham. Amazon dan Apple bahkan menjadi dua saham dengan kinerja terbaik di Dow Jones. Perusahaan logistik dan truk, seperti Old Dominion Freight Line dan Paccar, juga berhasil mengungguli pasar secara keseluruhan. Sektor-sektor S&P 500 yang melacak saham-saham konsumen diskresioner, industri, real estat, dan teknologi, juga menjadi yang terbaik performanya.

Dan Ives, seorang managing director di perusahaan manajemen kekayaan Wedbush Securities, menulis dalam catatannya bahwa pasar memang sudah memperkirakan Mahkamah Agung akan menolak tarif Trump. Ia juga menambahkan bahwa keputusan ini datang pada saat yang penting bagi rantai pasokan global, karena banyak perusahaan yang sudah mulai mengubah operasi rantai pasokan mereka untuk menghadapi lanskap tarif global.

Ketidakpastian Masih Menghantui

Meskipun keputusan Mahkamah Agung ini memberikan kejelasan bagi perusahaan-perusahaan AS, masih ada kekhawatiran bahwa presiden akan terus mencari cara lain untuk mengenakan bea masuk. Michael Pearce, kepala ekonom AS di perusahaan penasihat Oxford Economics, mengatakan bahwa manfaat ekonomi dari penurunan tarif dalam jangka pendek kemungkinan akan diimbangi oleh periode ketidakpastian yang berkepanjangan. Ia juga menambahkan bahwa pemerintah kemungkinan akan membangun kembali tarif melalui cara lain yang lebih tahan lama.

Menurut Pearce, ketidakpastian ini adalah risiko penurunan utama yang bisa memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Evercore juga mengatakan bahwa karena Mahkamah Agung tidak memberikan arahan tentang pengembalian dana, prosesnya akan sedikit lebih kacau.

Lalu, Bagaimana dengan Broker InstaForex?

Nah, kalau kamu tertarik untuk mencoba peruntungan di pasar saham atau mata uang, platform seperti Broker InstaForex bisa menjadi pilihan yang menarik. Di sana, kamu bisa mengakses berbagai instrumen investasi, termasuk saham-saham perusahaan AS yang tadi kita bahas. Tentu saja, penting untuk diingat bahwa trading dan investasi selalu memiliki risiko, jadi pastikan kamu sudah melakukan riset yang cukup sebelum memutuskan untuk berinvestasi.

Data Ekonomi dan Approval Rating Presiden

Beberapa jam sebelum keputusan Mahkamah Agung diumumkan, Biro Analisis Ekonomi melaporkan bahwa produk domestik bruto (PDB) riil AS naik 1.4% pada kuartal terakhir tahun 2025. Pada kuartal sebelumnya, PDB riil tumbuh 4.4%, menunjukkan pertumbuhan yang lebih lambat di akhir tahun.

Approval rating presiden terhadap penanganan ekonomi juga mengalami penurunan. Sebuah survei Reuters-Ipsos menemukan bahwa approval rating Trump terhadap ekonomi hanya 34%.

Minggu depan, Trump akan menyampaikan pidato Kenegaraan di hadapan Kongres. Pidato ini tentu akan menjadi momen penting untuk melihat arah kebijakan ekonomi AS ke depan.