Rollercoaster Harga Minyak: Hormuz Jadi Pusat Perhatian

Harga minyak mentah mengalami ayunan dramatis pada hari Selasa. Kenapa bisa begitu? Ternyata, informasi yang simpang siur mengenai lalu lintas kapal di Selat Hormuz menjadi penyebab utama. Awalnya, harga minyak mentah sempat anjlok cukup dalam, tapi kemudian merangkak naik lagi di sore hari.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat bahkan sempat terjun bebas hingga 19%, menyentuh angka di bawah $77 per barel. Tapi, penurunan ini tidak bertahan lama. WTI kemudian naik kembali dan diperdagangkan di sekitar $89 per barel menjelang sore. Minyak mentah Brent internasional juga mengalami nasib serupa. Sempat turun 17% ke bawah $80 per barel, Brent akhirnya melonjak lagi di atas $90 per barel.

Pasar saham pun ikut bergejolak. S&P 500 ditutup turun 0,21% setelah sempat naik hampir 1%. Nasdaq Composite berakhir datar, sementara Dow Jones Industrial Average turun 34 poin. Jadi, hari itu benar-benar penuh kejutan di pasar finansial.

Gara-Gara Cuitan yang Dihapus

Penyebab utama anjloknya harga minyak di pagi hari adalah sebuah unggahan di media sosial dari Menteri Energi AS, Chris Wright. Cuitan tersebut kemudian dihapus dan dibantah oleh Gedung Putih. Wright menulis di platform X bahwa "Angkatan Laut AS berhasil mengawal sebuah kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz untuk memastikan minyak tetap mengalir ke pasar global."

Seorang juru bicara kementerian kemudian menyalahkan "staf Departemen Energi" karena "salah memberi keterangan" pada video Wright. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, kepada wartawan menyatakan, "Angkatan Laut AS belum mengawal sebuah tanker atau kapal pada saat ini." Leavitt juga mengatakan bahwa tawaran pengawalan AS tetap tersedia untuk kapal-kapal di selat tersebut. Jadi, intinya, informasi yang beredar ternyata tidak akurat dan sempat membuat pasar panik.

Selat Hormuz: Jalur Vital yang Terancam

Keamanan kapal tanker minyak di Selat Hormuz dengan cepat menjadi faktor kunci yang memengaruhi pasokan dan harga minyak mentah di seluruh dunia. Kenapa ini penting? Selat ini biasanya dilalui oleh kapal-kapal yang bertanggung jawab untuk mengangkut lebih dari 20% pasokan minyak dunia ke pasar global. Bayangkan dampaknya jika jalur ini terganggu.

"Langkah-langkah kebijakan mungkin memiliki dampak terbatas pada harga minyak kecuali jika jalur aman melalui Selat Hormuz terjamin," tulis analis komoditas JPMorgan Chase dalam sebuah catatan pada hari Selasa.

Menurut laporan, kapal tanker berhenti melewati selat itu sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari. Kemacetan pasokan inilah yang menjadi alasan harga minyak mentah naik lebih dari 20% sejak perang dimulai. Situasi ini tentu saja membuat banyak pihak khawatir. Investor dan trader, misalnya, perlu memantau perkembangan ini dengan seksama. Platform trading seperti Broker InstaForex menyediakan akses ke berbagai instrumen keuangan yang terkait dengan minyak, sehingga trader bisa memanfaatkan peluang yang muncul dari volatilitas pasar.

Reaksi Global dan Opsi yang Dipertimbangkan

Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, mengatakan bahwa para pemimpin Kelompok Tujuh negara industri terkemuka berencana untuk mengadakan pertemuan virtual pada hari Rabu "untuk membahas koordinasi" mengenai pasokan energi global. Menteri energi dari negara-negara industri terkemuka bertemu pada Selasa pagi untuk membahas opsi untuk menanggapi kenaikan harga minyak mentah, tetapi mereka tidak mengumumkan pelepasan strategis cadangan minyak bumi setelahnya, yang secara luas dipandang sebagai respons lini depan dalam upaya menenangkan pasar global.

Setelah pertemuan G7, Menteri Keuangan Prancis, Roland Lescure, yang juga mengawasi kebijakan energi, mengatakan bahwa para pejabat telah meminta Badan Energi Internasional untuk "melihat secara detail apa yang bisa kita miliki jika kita memutuskan untuk menggunakan" cadangan minyak internasional untuk menenangkan pasar.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada NBC News minggu ini bahwa Presiden Donald Trump sedang meninjau sejumlah opsi lain untuk menurunkan harga, termasuk membatasi ekspor AS, melakukan intervensi di pasar berjangka, dan mencabut beberapa persyaratan dari Jones Act, yang mengharuskan bahan bakar domestik hanya diangkut oleh kapal-kapal berbendera AS. Jadi, pemerintah AS sedang berusaha mencari cara untuk menstabilkan harga minyak.

Gedung Putih juga berulang kali mengatakan bahwa lonjakan harga energi hanyalah "jangka pendek" dan akan turun setelah tujuan perang tercapai. Tapi, apakah benar demikian?

Sejauh ini, sejak perang dimulai, harga bensin eceran telah naik 50 sen, sebuah pengingat nyata bagi konsumen tentang dampak yang sudah terjadi. Ini menunjukkan bahwa gejolak di pasar minyak memiliki dampak langsung pada kehidupan sehari-hari. Tentu saja, semua perkembangan ini layak untuk terus diikuti, terutama bagi mereka yang berkecimpung di dunia trading dan investasi. Kembali lagi, platform seperti Broker InstaForex bisa menjadi jembatan untuk mengakses pasar dan memanfaatkan peluang yang ada.