Wah, pasar saham Amerika Serikat lagi rame nih! Jumat kemarin, saham-saham pada naik setelah Mahkamah Agung ngeluarin keputusan yang bisa dibilang kurang menguntungkan buat kebijakan tarif Presiden Trump. Jadi, ceritanya gini…

Saham Teknologi Jadi Penggerak Utama

Indeks Nasdaq Composite yang isinya perusahaan-perusahaan teknologi itu jadi bintangnya. Naik sekitar 1% di pertengahan sesi perdagangan. Bayangin, teknologi emang lagi kuat-kuatnya ya? Buat kamu yang trading atau investasi, pantau terus nih sektor teknologi. Platform seperti Broker InstaForex bisa jadi alat bantu buat ngeliat pergerakan pasar.

S&P 500 dan Dow Jones Ikutan Naik

Enggak mau ketinggalan, S&P 500 yang jadi barometer pasar saham juga ikutan naik hampir 0.7%. Dow Jones Industrial Average, yang isinya perusahaan-perusahaan gede, naik juga walaupun enggak seberapa, cuma 0.2%.

Reaksi Pasar Obligasi dan Dolar AS

Keputusan Mahkamah Agung ini ternyata berdampak juga ke pasar obligasi. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS pada naik semua. Yield obligasi 10 tahun, yang biasanya ngikutin suku bunga KPR, naik jadi 4.09%. Yang 30 tahun juga naik jadi 4.74%.

Terus, dolar AS juga ikutan perkasa. Dibandingin sama mata uang lain kayak poundsterling Inggris, Euro, sama Yen Jepang, dolar AS jadi lebih kuat. Ini sinyal kalau investor pada percaya sama aset-aset Amerika dan stabilitas ekonominya. Dolar kuat tuh biasanya nunjukkin kepercayaan investor.

Perusahaan yang Kena Tarif Langsung Terbang

Nah, yang paling seneng denger keputusan Mahkamah Agung ini pasti perusahaan-perusahaan yang bisnisnya kena banget sama tarif, kayak peritel dan produsen alat rumah tangga. Saham mereka langsung pada naik. Contohnya Apple, Ford, Coca-Cola, sama Target. Mereka ini langsung kecipratan untung setelah keputusan itu keluar.

Sektor-sektor yang isinya saham-saham konsumsi, industri, properti, sama teknologi pada naik lebih tinggi dibanding sektor lain yang enggak terlalu kena tarif.

Apa Kata Analis?

Dan Ives, seorang managing director di Wedbush Securities, bilang kalau pasar udah ngira dari awal Mahkamah Agung bakal nolak kebijakan tarifnya Trump. Jadi, keputusan ini kayak pukulan telak buat kebijakan tarif Trump.

Tapi, Ives juga bilang kalau masih ada cara lain yang bisa dipake pemerintah buat ngejaga kesepakatan tarif yang udah dibuat sama negara lain. "Keputusan ini datang di saat yang genting buat rantai pasokan global, karena perusahaan-perusahaan udah mulai ngubah operasi rantai pasokan mereka buat ngadepin situasi tarif global," kata Ives.

Dia juga nambahin kalau keputusan ini bisa bikin perusahaan-perusahaan dapet pengembalian dana (refund). Kalau itu kejadian, bakal jadi kabar baik buat sektor teknologi.

Pertumbuhan Ekonomi AS Melambat?

Beberapa jam sebelum keputusan Mahkamah Agung keluar, Biro Analisis Ekonomi ngelaporin kalau Produk Domestik Bruto (PDB) riil AS naik 1.4% di kuartal terakhir tahun 2025. Padahal, di kuartal sebelumnya, PDB riil naik 4.4%. Jadi, pertumbuhan ekonomi agak melambat di akhir tahun kemarin.

Approval Rating Presiden Turun

Selain itu, tingkat kepuasan masyarakat terhadap cara presiden ngelola ekonomi juga lagi turun. Survei Reuters-Ipsos nunjukkin kalau cuma 34% masyarakat yang setuju sama cara Trump ngelola ekonomi.

Minggu depan, Trump bakal pidato kenegaraan di depan Kongres. Kira-kira apa ya yang bakal dia omongin? Pasti seru nih buat disimak. Buat kamu yang tertarik sama trading atau investasi, berita-berita kayak gini penting banget buat diikutin. Kamu bisa manfaatin platform seperti Broker InstaForex buat ngeliat gimana pasar bereaksi terhadap berita-berita ini.