Demonstrasi Meluas di Iran: Korban Berjatuhan dan Respon Pemerintah Mengeras?

Gelombang demonstrasi yang dipicu oleh kondisi ekonomi Iran yang memburuk, belakangan ini meluas ke berbagai provinsi di pedesaan. Kabar buruknya, dilaporkan ada korban jiwa, baik dari pihak keamanan maupun demonstran. Setidaknya enam orang tewas dalam insiden ini. Apakah ini pertanda respon yang lebih keras dari pemerintah Iran?

Memang, demonstrasi di ibu kota, Teheran, terlihat mereda. Tapi, justru di wilayah lain, aksi protes semakin intensif. Tragisnya, korban jiwa dilaporkan terjadi di tiga kota yang mayoritas penduduknya adalah etnis Lur.

Mungkin kamu bertanya, seberapa besar skala protes ini? Kabarnya, ini adalah demonstrasi terbesar di Iran sejak tahun 2022, saat kematian Mahsa Amini dalam tahanan polisi memicu gelombang protes nasional. Amini ditahan karena dianggap tidak mengenakan hijab sesuai aturan yang berlaku. Namun, perlu diingat, demonstrasi kali ini belum mencapai skala nasional dan intensitasnya belum separah kejadian tahun 2022.

Kekerasan Memuncak di Azna

Kekerasan terparah dilaporkan terjadi di Azna, sebuah kota di provinsi Lorestan, sekitar 300 kilometer barat daya Teheran. Video yang beredar di internet menunjukkan jalanan yang dipenuhi kobaran api dan suara tembakan bersahutan. Teriakan "Memalukan! Memalukan!" juga terdengar di tengah kericuhan. Kantor berita semi-resmi Fars melaporkan tiga orang tewas di Azna. Media lain, termasuk media pro-reformasi, juga mengutip laporan Fars. Namun, media pemerintah belum sepenuhnya mengakui kekerasan yang terjadi di Azna maupun di tempat lain. Kenapa ya pemberitaan tentang kerusuhan ini kurang masif? Bisa jadi karena pengalaman tahun 2022, di mana banyak jurnalis ditangkap karena pemberitaan mereka.

Lordegan Juga Bergejolak

Selain Azna, Lordegan, sebuah kota di provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari, juga dilanda demonstrasi. Video yang beredar menunjukkan kerumunan demonstran di jalanan, dengan suara tembakan terdengar di latar belakang. Lokasi video tersebut cocok dengan ciri-ciri kota Lordegan. Fars, mengutip seorang pejabat anonim, mengatakan dua orang tewas selama protes di Lordegan. Abdorrahman Boroumand Center for Human Rights in Iran yang berbasis di Washington, juga melaporkan dua orang tewas di Lordegan, mengidentifikasi mereka sebagai demonstran. Mereka juga membagikan foto yang menunjukkan seorang petugas polisi Iran mengenakan pelindung tubuh dan memegang senapan.

Perlu diingat, wilayah sekitar Lordegan pernah dilanda protes besar-besaran pada tahun 2019. Saat itu, demonstran dilaporkan merusak gedung-gedung pemerintah setelah ada laporan yang menyebutkan bahwa warga di sana terinfeksi HIV akibat jarum suntik yang terkontaminasi di sebuah klinik kesehatan setempat.

Korban dari Pihak Keamanan

Tidak hanya dari pihak demonstran, korban jiwa juga berjatuhan dari pihak keamanan. Seorang sukarelawan berusia 21 tahun dari Pasukan Basij Garda Revolusi paramiliter dilaporkan tewas dalam demonstrasi pada Rabu malam. Kantor berita pemerintah IRNA melaporkan kematian anggota Garda tersebut, tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut. Student News Network, sebuah media yang dekat dengan Basij, menyalahkan demonstran atas kematian anggota Garda tersebut. Saeed Pourali, seorang wakil gubernur di provinsi Lorestan, mengatakan bahwa anggota Garda tersebut "menjadi martir ... di tangan perusuh selama protes di kota ini untuk membela ketertiban umum." Dia menambahkan bahwa 13 anggota Basij dan petugas polisi lainnya menderita luka-luka.

Akar Masalah Ekonomi dan Respons Pemerintah

"Protes yang terjadi adalah akibat tekanan ekonomi, inflasi dan fluktuasi mata uang, dan merupakan ekspresi dari kekhawatiran mata pencaharian," kata Pourali. "Suara warga harus didengar dengan cermat dan bijaksana, tetapi masyarakat tidak boleh membiarkan tuntutan mereka disusupi oleh individu yang mencari keuntungan." Demonstrasi di Kouhdasht, lebih dari 400 kilometer barat daya Teheran, juga menyebabkan penangkapan 20 orang. Jaksa setempat, Kazem Nazari, mengatakan bahwa situasi di kota tersebut sudah kembali tenang.

Pemerintah sipil Iran di bawah kepemimpinan Presiden Masoud Pezeshkian, mencoba memberikan sinyal bahwa mereka bersedia bernegosiasi dengan para demonstran. Namun, Pezeshkian mengakui bahwa ia tidak bisa berbuat banyak karena mata uang rial Iran telah merosot tajam. Sekarang, nilai tukar 1 dolar AS mencapai sekitar 1,4 juta rial. Kondisi ekonomi yang sulit ini tentu saja bisa memengaruhi stabilitas pasar keuangan. Bagi mereka yang tertarik dengan trading atau investasi, platform seperti Broker InstaForex bisa menjadi salah satu pilihan untuk memantau dan berpartisipasi dalam pasar keuangan, dengan tetap mempertimbangkan risiko yang ada.

Sementara itu, televisi pemerintah melaporkan penangkapan tujuh orang, termasuk lima orang yang disebut sebagai royalis dan dua orang lainnya yang terkait dengan kelompok-kelompok yang berbasis di Eropa. Televisi pemerintah juga melaporkan penyitaan 100 pistol selundupan oleh pasukan keamanan.

Pemerintah Iran telah menyatakan hari Rabu sebagai hari libur nasional di sebagian besar wilayah negara itu, dengan alasan cuaca dingin. Langkah ini kemungkinan bertujuan untuk mendorong orang-orang keluar dari ibu kota untuk menikmati akhir pekan yang panjang. Akhir pekan di Iran adalah hari Kamis dan Jumat, sementara hari Sabtu adalah hari ulang tahun Imam Ali, yang juga merupakan hari libur bagi banyak orang.

Sentimen Anti-Pemerintah

Protes yang berakar pada masalah ekonomi ini juga diwarnai dengan sentimen anti-pemerintah. Para demonstran meneriakkan slogan-slogan yang menentang pemerintahan Iran. Negara ini masih berusaha bangkit kembali setelah perang 12 hari yang dilancarkan Israel pada bulan Juni. AS juga membom situs-situs nuklir Iran selama perang tersebut.

Iran telah menyatakan bahwa mereka tidak lagi memperkaya uranium di situs mana pun di negara itu. Langkah ini merupakan sinyal kepada Barat bahwa mereka masih terbuka untuk negosiasi mengenai program atom mereka untuk meringankan sanksi. Namun, pembicaraan tersebut belum terwujud karena Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah memperingatkan Teheran agar tidak membangun kembali program atomnya.