Gelombang Mogok Kerja Mengguncang Resor Ski di Amerika: Ketika Biaya Hidup Tak Sebanding dengan Gaji
Pernahkah kamu membayangkan bagaimana rasanya bekerja di tengah keindahan pegunungan bersalju, sambil mempertaruhkan nyawa demi keselamatan orang lain? Itulah realita yang dihadapi para ski patroller, atau petugas patroli ski. Mereka ini bukan sekadar penjaga jalur ski, tapi juga tenaga medis terlatih yang siap siaga memberikan pertolongan pertama, melakukan penyelamatan ekstrem, bahkan menggunakan bahan peledak untuk mencegah longsoran salju.
Tony Daranyi, misalnya, sudah 27 tahun menjadi ski patroller di Telluride, Colorado. Dengan sertifikasi EMT (teknisi medis darurat) dan pelatihan lanjutan dalam memprediksi longsoran salju, ia bekerja di cuaca ekstrem dan mempertaruhkan keselamatannya setiap hari. Upahnya? Sekitar 32 dolar AS per jam, setara dengan kebanyakan ski patroller berpengalaman lainnya. Bagi pemula, bahkan lebih rendah lagi, hanya sekitar 21 dolar AS per jam.
Lantas, cukupkah gaji segitu untuk hidup layak di salah satu pasar perumahan termahal di Amerika? Jawabannya, sayangnya, tidak. Itulah yang mendorong Tony dan rekan-rekannya di Telluride Ski Resort untuk melakukan mogok kerja pada 27 Desember lalu. Aksi ini sempat menutup resor ski tersebut di tengah musim liburan yang ramai.
Mengapa Mogok Kerja Jadi Pilihan?
Kamu mungkin bertanya-tanya, mengapa mogok kerja menjadi satu-satunya jalan keluar? Ternyata, masalah ini bukan hanya dialami oleh ski patroller di Telluride. Di berbagai kota pegunungan di wilayah Barat Amerika, para ski patroller semakin gencar menuntut kenaikan upah. Mereka merasa gaji mereka jauh tertinggal dari biaya hidup yang terus melonjak.
Setahun sebelumnya, ski patroller di Park City, Utah, juga melakukan mogok kerja yang menyebabkan penutupan sebagian besar area resor selama hampir dua minggu. Aksi ini tentu saja menuai kecaman dari para wisatawan. Sementara itu, di Jackson Hole Mountain Resort, Wyoming, para ski patroller bahkan memutuskan untuk membentuk serikat pekerja. Langkah ini mengikuti jejak rekan-rekan mereka di Keystone Resort, Eldora Mountain, dan Arapahoe Basin Ski Area di Colorado. Serikat pekerja United Mountain Workers kini memiliki sekitar 1.000 anggota.
"Upah tidak sebanding dengan biaya hidup. Kami sangat jauh di bawah apa yang dibutuhkan seseorang di komunitas ini untuk mampu membayar sewa atau bahkan mencoba membeli rumah yang terjangkau," ujar Daranyi, yang pernah menjabat sebagai presiden serikat pekerja dan membantu mendirikan serikat pekerja Telluride satu dekade lalu. "Ini bukan hanya tentang patroli ski Telluride. Ini adalah cerminan dari apa yang terjadi di semua komunitas pegunungan, dan juga cerminan dari apa yang terjadi secara nasional dengan ketimpangan pendapatan dan kekayaan."
Kenaikan Harga Rumah Memicu Krisis
Sebenarnya, berjuang untuk bertahan hidup dengan gaji pekerja resor ski bukanlah hal baru. Apalagi di kota-kota tujuan wisata yang memiliki properti paling dicari di dunia. Namun, lonjakan biaya perumahan di komunitas resor setelah pandemi telah mendorong para pekerja ke titik nadir.
Amanda Kelly, seorang ski patroller di Keystone Resort, menggambarkan situasinya dengan lugas: "Kami seperti ambulans di lereng ski yang tidak memungut biaya apa pun untuk layanan kami, dan beberapa dari kami dibayar hampir tidak lebih dari posisi pemula. Kami mempertaruhkan nyawa dan tubuh kami, dan kami membutuhkan banyak keterampilan untuk melakukan apa yang kami lakukan, dan kami berjuang bahkan hanya untuk memberi makan diri kami sendiri dari hari ke hari."
Menurut analisis terbaru oleh para peneliti Universitas Harvard, harga rumah di komunitas liburan pedesaan meningkat 47% dalam tiga tahun setelah dimulainya pandemi. Sebagai perbandingan, kenaikan harga rumah di daerah pedesaan secara keseluruhan hanya mencapai 36%. Komunitas liburan di wilayah Barat, seperti Telluride dan Park City, mengalami kenaikan terbesar, dengan harga rumah naik rata-rata 51%. Para peneliti menghubungkan lonjakan ini dengan masuknya pekerja jarak jauh dan pembeli rumah kedua, yang berbondong-bondong ke komunitas pedesaan mencari ruang yang lebih luas, biaya perumahan yang lebih rendah, dan akses mudah ke aktivitas luar ruangan.
Dampak Lebih Luas dari Sekadar Upah
David Seligman, direktur eksekutif Towards Justice, sebuah kelompok advokasi pekerja, mengatakan bahwa apa yang terjadi di komunitas pegunungan di Colorado seperti yang terjadi di seluruh negeri, tetapi dengan intensitas yang lebih tinggi.
Salah satu aspek yang membuat aksi mogok ski patroller ini berbeda adalah tingkat pelatihan yang mereka miliki. Mereka sangat penting untuk operasional resor dan sulit digantikan saat mogok. Mereka bertanggung jawab untuk memastikan keselamatan para tamu di gunung, termasuk memberikan pertolongan pertama, menyelamatkan tamu yang terdampar di kereta gantung atau tebing, dan mencegah longsoran salju dengan bahan peledak. Keahlian inilah yang menjadi dasar argumen mereka untuk mendapatkan upah yang lebih tinggi.
Pekerjaan ini juga bisa sangat berat secara fisik dan bahkan mematikan. Cole Murphy, seorang ski patroller di Mammoth Mountain, tewas saat bekerja, dan seorang ski patroller lainnya terluka dalam longsoran salju di sana bulan lalu.
Melihat fenomena ini, kamu mungkin jadi bertanya, bagaimana dengan investasi di sektor lain? Misalnya, di pasar keuangan, fluktuasi bisa terjadi karena berbagai faktor ekonomi dan sosial. Broker seperti InstaForex, misalnya, menyediakan platform bagi para trader untuk berpartisipasi dalam pasar, tetapi tentu saja dengan pemahaman yang baik tentang risiko yang terlibat.
Pada akhirnya, kisah para ski patroller ini adalah cerminan dari masalah yang lebih besar: bagaimana kita menghargai pekerjaan-pekerjaan penting yang seringkali tidak mendapatkan kompensasi yang layak, dan bagaimana kita mengatasi ketimpangan ekonomi yang semakin menganga di masyarakat kita?