Iran Bergejolak: Protes Ekonomi dan Ketidakpuasan Publik

Iran sedang menghadapi gelombang demonstrasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Bayangkan, jalanan di Teheran dan kota-kota lain dipenuhi orang yang menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap kondisi ekonomi negara yang memprihatinkan. Protes ini bukan cuma sekadar keluhan, tapi luapan emosi dari masyarakat yang merasa tercekik.

Aksi protes ini mulai membesar sejak hari Minggu, lalu semakin menjadi-jadi pada hari Senin. Apa pemicunya? Nilai mata uang Iran, rial, mencapai titik terendah terhadap dolar AS. Kita tahu sendiri kan, kalau nilai mata uang anjlok, harga-harga langsung meroket. Banyak warga Iran yang sudah kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan kenaikan harga ini memicu kekhawatiran akan potensi hiperinflasi.

Di Teheran, para pemilik toko berdemonstrasi di dekat pusat kota, mengingatkan kita pada revolusi Iran tahun 1979. Dulu, para pedagang memainkan peran penting dengan menutup toko mereka dan memprotes sang raja. Mirip kan?

Memang, alasan utama dari protes ini adalah ekonomi. Tapi, ada hal lain juga yang mendasari. Video yang beredar online menunjukkan kerumunan orang meneriakkan slogan-slogan yang menentang para ulama yang berkuasa. Apakah ini cuma masalah ekonomi atau ada sentimen lain yang lebih dalam?

Kantor berita Fars yang dikelola pemerintah bahkan sempat menunjukkan gambar gas air mata yang ditembakkan ke arah demonstran. Sementara itu, presiden Iran mendesak pihak berwenang untuk mendengarkan "tuntutan sah" para pengunjuk rasa. Lalu, kepala bank sentral, Mohammad Reza Farzin, yang sedang dalam tekanan, mengundurkan diri pada hari Senin. Keadaan yang serba tidak pasti, ya?

Rial Anjlok, Keluarga Tercekik

Bayangkan, nilai rial Iran jatuh ke 1,42 juta terhadap dolar pada hari Minggu, lalu sedikit membaik menjadi 1,38 juta pada hari Senin. Penurunan yang sangat drastis! Para analis mengatakan, penurunan nilai mata uang ini membuat keluarga-keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan hidup karena nilai tabungan mereka juga ikut merosot.

Data dari pusat statistik negara menunjukkan bahwa tingkat inflasi pada bulan Desember naik menjadi 42,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Bahkan, lebih tinggi 1,8% dari bulan November. Harga pangan naik 72%, sementara harga kesehatan dan obat-obatan naik 50% dari Desember tahun lalu. Apakah ini pertanda hiperinflasi akan segera tiba?

Sentimen Publik dan Krisis Kepemimpinan

"Orang-orang merasa ditinggalkan, bahwa para pemimpin tidak peduli pada mereka," kata Omid Memarian, seorang analis senior Iran di Dawn, sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Washington yang mempromosikan hak asasi manusia di Timur Tengah. "Presiden tidak tahu apa yang harus dilakukan, sanksi semakin terasa, dan tekanan semakin meningkat dari hari ke hari."

Protes ini dimulai dari para pemilik toko dan pedagang di Teheran. Media pemerintah melaporkan bahwa banyak toko di sekitar Grand Bazaar tutup pada hari Senin karena ratusan orang berkumpul. Penurunan nilai mata uang dan fluktuasi harga sangat memukul para pedagang yang menjual barang-barang impor.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengakui masalah ekonomi yang mendalam di negaranya. Ia mengatakan telah menginstruksikan menteri dalam negeri untuk bertemu dengan perwakilan dari para pengunjuk rasa untuk mendengarkan keluhan mereka dan mencoba menyelesaikan masalah mereka.

Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf juga mengatakan bahwa "Keputusan segera diperlukan untuk menjaga daya beli masyarakat dan meyakinkan masyarakat bahwa praktik ekonomi yang salah sedang berubah dan membaik." Qalibaf juga menuduh musuh-musuh Iran berusaha memanfaatkan protes ini.

Pemerintah mengumumkan penutupan akan dilakukan pada hari Rabu di Teheran dan sejumlah provinsi lain di seluruh negeri, dengan alasan cuaca dingin dan kebutuhan untuk menjaga pasokan energi. Apakah ini langkah yang tepat untuk meredam gejolak?

Mengenang Protes 2022 dan Akar Masalah yang Sama

Demonstrasi ini tampaknya menjadi yang terbesar di Republik Islam sejak protes "Woman, Life, Freedom" pada tahun 2022 dan 2023. Saat itu, protes tersebut menjadi tantangan serius bagi pemerintah Iran dan baru mereda setelah tindakan keras dari pasukan keamanan yang menyebabkan kematian sekitar 500 orang dan penangkapan ribuan orang.

"Meskipun protes ini memiliki pemicu yang berbeda dari pemberontakan 'Woman, Life, Freedom' tahun 2022—yang dipicu oleh pembunuhan Mahsa Jina Amini di tangan polisi moral—keluhan inti tetap sama: salah urus sistemik, korupsi, dan penindasan," kata Holly Dagres, seorang peneliti senior di Washington Institute for Near East Policy. "Bagi warga Iran, selama Republik Islam masih berkuasa, masalah mereka tidak dapat diselesaikan."

Ekonomi Iran telah terpukul oleh sanksi selama bertahun-tahun. Perang selama 12 hari dengan Israel pada bulan Juni lalu—ketika militer AS juga menyerang fasilitas nuklir negara itu—membuat negara itu terhuyung-huyung.

"Setelah perang, ada perasaan bahwa akan ada pembukaan besar-besaran, tetapi Anda melihat bahwa kepemimpinan Iran menjadi semakin garis keras dan orang-orang tidak melihat jalan keluar dari kesulitan yang mereka alami sekarang," kata Memarian.

Situasi seperti ini tentu berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Bahkan, bagi sebagian orang, ini bisa menjadi peluang untuk mencoba peruntungan di pasar keuangan. Platform seperti Broker InstaForex, misalnya, menawarkan akses ke berbagai instrumen trading yang bisa dimanfaatkan untuk mencari potensi keuntungan, meskipun tentu saja dengan risiko yang perlu dipertimbangkan.