Kehidupan di Bawah Bayang-Bayang: Kisah Warga Gaza yang Hidup dalam Teror
Kehidupan di Bawah Bayang-Bayang: Kisah Warga Gaza yang Hidup dalam Teror
Malam yang Mengubah Segalanya
Umm Amjad Rachid, warga Gaza, masih terngiang-ngiang suara ledakan yang mengguncang rumahnya pada tanggal 26 Agustus 2025. Suara itu bukan sekadar suara keras biasa; itu adalah suara kehancuran, suara yang menghancurkan kedamaian malam dan menorehkan trauma mendalam di hati. "Kami sedang tidur ketika rumah tetangga kami terkena serangan," kenangnya dengan suara bergetar. "Tuhan menyelamatkan kami dan anak-anak. Tuhan dari atas melindungi kami. Saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya katakan. Kami benar-benar tidak tahu harus berkata atau berbuat apa."
Kesedihan dan keputusasaan terpancar dari setiap kata Umm Amjad. Bukan hanya rumahnya yang hampir terkena dampak serangan, tetapi juga rasa aman dan ketenangan yang telah sirna. Kehidupan yang tadinya normal, kini dibayangi oleh rasa takut yang tak pernah henti. "Kehancuran, semuanya hancur total," lanjutnya. "Sabra dan Zeitoun, di mana-mana, tidak ada tempat aman. Kami berjalan dalam ketakutan, kami tidur dalam ketakutan, kami duduk dalam ketakutan. Kehidupan sangat buruk... kami kelelahan."
Jejak Kehancuran dan Kesaksian Seorang Saksi
Kisah Umm Amjad hanyalah satu dari sekian banyak kisah pilu yang terjadi di Gaza. Abu Natalie al-Dahchan, warga Gaza lainnya, juga menjadi saksi bisu atas tragedi tersebut. Ia menceritakan pengalaman mengerikannya saat menyelamatkan seorang gadis kecil dan bayi berusia enam bulan dari reruntuhan bangunan yang hancur. "Kami mengeluarkan gadis itu dari bawah reruntuhan, bersama dengan bayi berusia enam bulan," kata Abu Natalie. "Mereka sedang duduk di toko, dan tiba-tiba kami melihat semuanya menjadi abu-abu [SUARA KENYANG TERDENGAR]. Itu seperti suara yang baru saja kamu dengar." Suara ledakan yang masih terngiang dalam ingatannya, menjadi simbol dari teror yang terus menghantui warga Gaza.
Serangan udara dan tembakan tank Israel yang berlangsung sepanjang malam dan dini hari di pinggiran kota Gaza timur, seperti Sabra, Shejaia, dan Tuffah, serta di kota Jabalia di utara, telah menyebabkan kerusakan yang sangat parah. Rumah-rumah hancur, jalan-jalan porak poranda, dan kehidupan warga terancam. Lebih dari 34 orang tewas dalam serangan tersebut, termasuk 18 orang di sekitar Kota Gaza, menurut otoritas kesehatan setempat. Tujuh orang tewas dalam serangan udara di malam hari. Angka korban jiwa yang terus bertambah menjadi bukti nyata dari keganasan konflik yang berkepanjangan.
Di Bawah Ancaman Serangan Baru
Meskipun Israel mengklaim telah mengambil langkah-langkah untuk menghindari jatuhnya korban sipil, dan menyatakan bahwa operasi militer bertujuan untuk menargetkan militan Hamas serta membebaskan sandera yang ditahan oleh kelompok tersebut sejak serangan tahun 2023, realitas di lapangan berbicara lain. Warga Gaza merasa tidak aman di mana pun mereka berada. Kehidupan mereka sehari-hari dipenuhi dengan ketakutan akan serangan berikutnya. Kehancuran infrastruktur dan hilangnya nyawa tak berdosa menjadi bukti nyata kegagalan upaya untuk meminimalisir korban sipil.
Di tengah protes meluas di dalam negeri dan kecaman internasional, Israel bahkan bersiap untuk melancarkan serangan baru di Kota Gaza, yang digambarkan sebagai benteng terakhir Hamas. Ancaman serangan baru ini semakin memperparah penderitaan warga sipil yang sudah menderita akibat konflik berkepanjangan. Kehidupan mereka terombang-ambing di antara ketakutan dan ketidakpastian, tanpa tahu kapan teror akan kembali menghampiri mereka.
Harapan di Tengah Kegelapan
Kisah Umm Amjad dan Abu Natalie mencerminkan realitas pahit yang dialami oleh jutaan warga Gaza. Mereka hidup di bawah bayang-bayang ketakutan, kehancuran, dan ketidakpastian. Kehidupan mereka yang telah dipenuhi dengan kekerasan dan penderitaan, membutuhkan perhatian dan solusi yang nyata, bukan hanya janji-janji kosong. Perdamaian dan keamanan bukanlah sekadar utopia, tetapi sebuah kebutuhan mendesak bagi warga Gaza yang telah terlalu lama menderita. Semoga suatu hari nanti, mereka dapat hidup dengan tenang dan damai, tanpa harus hidup dalam ketakutan. Semoga teror yang menghantui kehidupan mereka segera berakhir, dan harapan akan masa depan yang lebih baik dapat kembali menyinari kehidupan mereka.