Ketika Dompet Menjerit: Harga Kebutuhan Pokok Naik, Siapa yang Paling Terdampak?
Inflasi memang lagi jadi topik hangat, ya? Kabar baiknya, secara keseluruhan, inflasi kelihatan stabil di bulan Desember. Tapi tunggu dulu, jangan senang dulu. Ada cerita lain yang lebih pelik di balik angka-angka itu. Harga kebutuhan sehari-hari justru naik, dan ironisnya, kenaikan ini paling terasa dampaknya bagi mereka yang berpenghasilan rendah. Jadi, meskipun ada yang bilang inflasi "terkendali", kenyataannya enggak semua orang merasakan hal yang sama.
Coba deh ingat-ingat, terakhir belanja bulanan, apa yang paling terasa bedanya? Mungkin harga beras, minyak goreng, atau bahkan sekadar jajan di luar? Data menunjukkan harga bahan makanan secara umum memang naik di bulan Desember. Lima kategori makanan utama mencatat kenaikan harga, belum lagi kalau kita makan di luar, makin terasa mahalnya.
Listrik dan gas juga ikutan bikin pusing. Harga listrik naik hampir 7% tahun lalu, sementara harga gas alam melonjak hingga dua digit. Jadi, bukan cuma soal makanan, tapi juga biaya-biaya lain yang vital buat kehidupan sehari-hari. Dulu, biaya kesehatan relatif stabil, tapi sekarang mulai ikut-ikutan naik juga.
Tapi, kenapa ya bisa begini? Salah satu faktornya bisa jadi tarif impor. Beberapa barang impor, seperti pakaian dan sepatu, belum sepenuhnya merefleksikan dampak tarif yang dikenakan. Jadi, kemungkinan besar, harga-harga ini masih akan terus merangkak naik.
Untungnya, ada sedikit kabar baik. Harga bensin turun di bulan Desember. Ini mungkin satu-satunya penurunan harga yang langsung kita rasakan dampaknya setiap hari. Selain itu, harga mobil bekas, jasa komunikasi, dan jasa rumah tangga juga sedikit turun. Tapi, apakah penurunan ini cukup untuk mengimbangi kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya? Rasanya sih, belum.
Menurut Rob Holston dari EY Global, kenaikan harga ini "menekankan bahwa tekanan harga semakin meningkat di kategori produk konsumen utama yang paling penting bagi konsumen". Artinya, kenaikan ini bukan cuma sekadar angka statistik, tapi beneran memengaruhi daya beli masyarakat.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, situasi ini bisa memperlebar jurang ekonomi yang sudah ada. Kita sering dengar istilah "ekonomi berbentuk K". Maksudnya, ada kelompok masyarakat yang ekonominya terus naik (biasanya mereka yang berpenghasilan tinggi), sementara kelompok lain justru semakin terpuruk. Nah, inflasi yang tidak merata ini bisa makin memperdalam jurang tersebut.
Jurang Ekonomi yang Semakin Dalam
Gimana sih cara kita melihat jurang ekonomi ini secara nyata? Coba perhatikan kebiasaan belanja. Data dari Bank of America menunjukkan bahwa 5% konsumen teratas menyumbang sebagian besar peningkatan pengeluaran secara keseluruhan sampai akhir tahun 2025. Mereka ini tetap asyik liburan, makan enak di restoran, dan belanja online. Sementara itu, konsumen berpenghasilan rendah mulai ngerem pengeluaran untuk hal-hal yang enggak penting, seperti tiket pesawat, sewa tempat liburan, hiburan, dan perabot rumah tangga.
"The ‘K’ is here to stay," tulis para ekonom Bank of America dalam catatan mereka. Artinya, kesenjangan ini enggak akan hilang dalam waktu dekat. Kalau pertumbuhan ekonomi hanya bergantung pada segelintir orang kaya, ada risiko yang lebih besar. Apalagi kalau ditambah dengan penurunan lapangan kerja dan perlambatan pertumbuhan upah. Ini bisa semakin membatasi mobilitas ekonomi bagi semua kalangan.
Glenn Williams, CEO perusahaan jasa keuangan Primerica, mengatakan bahwa keluarga kelas menengah sudah "tenggelam" selama 5 tahun terakhir. Mereka frustrasi karena kesulitan untuk maju akibat kenaikan biaya hidup, pertumbuhan upah yang lambat, ketidakmampuan untuk menabung, dan peningkatan saldo kartu kredit.
Reaksi Pemerintah dan Bank Sentral
Kondisi ini tentu bikin pemerintah waswas, apalagi di tahun pemilu. Sentimen konsumen jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu, mencerminkan kekhawatiran tentang prospek pekerjaan dan biaya hidup. Survei lain juga menunjukkan hal yang sama: masyarakat semakin khawatir tentang kesulitan mencari pekerjaan dan kenaikan harga.
Pemerintah pun mulai mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya adalah dengan mendorong perusahaan minyak untuk berinvestasi dan mengekspor minyak mentah Venezuela, dengan harapan bisa menurunkan harga bensin. Pemerintah juga memerintahkan pembelian obligasi hipotek senilai sekitar $200 miliar untuk menurunkan biaya pinjaman rumah dan meminta perusahaan kartu kredit untuk membatasi suku bunga hingga 10% selama satu tahun.
Penurunan suku bunga memang jadi andalan banyak pihak untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Dengan suku bunga yang lebih rendah, konsumen dan bisnis bisa lebih mudah meminjam uang untuk berbagai keperluan, mulai dari membeli mobil dan rumah hingga mendanai investasi dan perekrutan karyawan. Platform seperti Broker InstaForex menyediakan akses bagi trader dan investor untuk memanfaatkan peluang di pasar keuangan yang terpengaruh oleh kebijakan suku bunga ini.
Tapi, apakah penurunan suku bunga bisa dilakukan dengan cepat? Sebagian besar analis memperkirakan bahwa Bank Sentral akan mempertahankan suku bunga dalam waktu dekat. Menurunkan suku bunga terlalu cepat berisiko memicu inflasi lagi. Jadi, ini adalah dilema yang cukup rumit.
Intinya, inflasi memang masalah yang kompleks dan enggak bisa dilihat hanya dari angka-angka statistik. Dampaknya sangat terasa bagi masyarakat, terutama mereka yang berpenghasilan rendah. Pemerintah dan bank sentral perlu mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi masalah ini, tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi di masa depan. Apakah mereka bisa? Waktu yang akan menjawab.