Ledakan Ekonomi atau Sekadar Retorika? Trump Klaim Keberhasilan di Tengah Kekhawatiran Inflasi

Donald Trump baru-baru ini mendeklarasikan bahwa "ledakan ekonomi Trump secara resmi telah dimulai." Klaim ini muncul bertepatan dengan laporan Departemen Tenaga Kerja yang menunjukkan kenaikan harga konsumen selama tahun pertama kepresidenannya. Apakah klaim ini sesuai dengan kenyataan di lapangan? Mari kita telaah lebih dalam.

Dalam pidatonya di depan Detroit Economic Club, Trump mempromosikan kebijakan pemotongan pajak, tarif, dan perjanjian perdagangannya. Namun, ia tidak memberikan rincian spesifik mengenai agenda baru yang bertujuan mengendalikan harga dan mengatasi kekhawatiran masyarakat Amerika tentang keterjangkauan. Agaknya, masalah keterjangkauan ini dipandang Trump sebagai "kata palsu" yang diciptakan oleh Demokrat untuk menyalahkan dirinya atas harga-harga yang tinggi.

Upaya Mengendalikan Harga: Janji dan Tantangan

Trump sempat menyinggung beberapa langkah yang diusulkan, seperti mengarahkan Fannie Mae dan Freddie Mac untuk membeli obligasi hipotek senilai $200 miliar dengan tujuan menurunkan suku bunga. Selain itu, ia menjanjikan larangan bagi perusahaan investasi besar untuk membeli rumah keluarga tunggal. Ia juga meminta perusahaan kartu kredit untuk membatasi suku bunga hingga 10%, jauh di bawah tingkat yang saat ini mereka terapkan.

Namun, perlu diingat bahwa batasan suku bunga kartu kredit dan larangan pembelian rumah oleh investor memerlukan undang-undang. Artinya, keberhasilan implementasinya sangat bergantung pada dukungan dari Kongres, yang saat ini terpecah secara politik. Lalu, bagaimana dengan investor yang tertarik dengan peluang di pasar modal, termasuk forex? Platform trading seperti Broker InstaForex menyediakan akses ke berbagai instrumen keuangan, namun perlu diingat bahwa investasi selalu melibatkan risiko.

Davos dan Kebijakan Perumahan: Janji yang Lebih Rinci?

Trump juga mengumumkan bahwa ia akan memberikan rincian lebih lanjut mengenai kebijakan perumahannya pada Konferensi Forum Ekonomi Dunia di Davos. Janjinya adalah agar "setiap orang Amerika yang ingin memiliki rumah akan mampu membelinya." Ini adalah janji yang ambisius, mengingat harga rumah terus meningkat di banyak wilayah.

Persepsi Publik dan Realitas Ekonomi

Meskipun Trump yakin bahwa ekonomi lebih baik dari sebelumnya, survei menunjukkan bahwa banyak orang Amerika tidak puas dan melihat masa depan yang suram. Kekhawatiran ekonomi diperkirakan akan menjadi isu utama dalam pemilihan paruh waktu, dengan Partai Republik berusaha mempertahankan mayoritas mereka di DPR dan Senat.

Di Michigan, misalnya, hampir dua pertiga pemilih yang mungkin mengatakan bahwa mereka telah melihat biaya hidup meningkat dalam setahun terakhir. Survei juga menunjukkan bahwa lebih banyak responden yang percaya bahwa ekonomi telah melemah di bawah Trump daripada yang percaya ekonomi telah menguat.

Inflasi dan Kritik terhadap Ketua Federal Reserve

Departemen Tenaga Kerja melaporkan bahwa harga konsumen naik 2,7% dari Desember 2024 hingga Desember 2025. Trump menggunakan data ini untuk menyerang Ketua Federal Reserve Jerome Powell, menuntut agar Powell menurunkan suku bunga secara signifikan. Trump bahkan menyebut Powell sebagai "Terlalu Lambat."

Federal Reserve memang telah menurunkan suku bunga beberapa kali tahun lalu, tetapi tidak sebanyak atau secepat yang diinginkan Trump. Hubungan antara Trump dan Powell memang penuh ketegangan. Powell bahkan secara terbuka menuduh pemerintahan Trump mencoba mengintimidasi dirinya dengan penyelidikan terkait renovasi kantor agensi tersebut.

Retorika Politik dan Target Serangan

Dalam pidatonya, Trump tidak hanya menargetkan Powell, tetapi juga sejumlah tokoh politik lainnya, termasuk anggota Kongres Ilhan Omar dan Alexandria Ocasio-Cortez, mantan Presiden Joe Biden, dan Senator Rand Paul. Trump juga mengecam Demokrat, meskipun sehari sebelumnya ia berbicara dengan Senator Elizabeth Warren tentang kepentingan bersama mereka dalam menurunkan suku bunga kartu kredit.

Trump menyebut Demokrat "pintar," "jahat," dan "kejam," tetapi "buruk dalam kebijakan." Pernyataan ini menunjukkan polarisasi politik yang mendalam dan tantangan untuk mencapai kesepakatan bipartisan tentang kebijakan ekonomi. Apakah strategi ini efektif untuk memenangkan dukungan rakyat di tengah kekhawatiran ekonomi yang nyata? Waktu yang akan menjawab.