Pasar Asia Terpuruk, Yen Menguat Pasca Federal Reserve Tahan Suku Bunga
Pasar Asia-Pasifik Menurun Setelah Fed Menahan Suku Bunga
Pasar saham Asia-Pasifik sebagian besar mengalami penurunan pada hari Kamis, setelah Federal Reserve AS memutuskan untuk mempertahankan suku bunga tetap pada akhir pertemuan dua harinya. Ketua Fed Jerome Powell mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga, meredakan kekhawatiran atas potensi ketidakmampuan bank sentral mengendalikan inflasi.
Fokus pada Yen Jepang
Fokus tertuju pada mata uang yen Jepang, yang mengalami awal pekan yang bergejolak di tengah dugaan intervensi pemerintah untuk menopang mata uang tersebut pada hari Senin. Terakhir, yen diperdagangkan pada level 155,83 terhadap dolar AS. Nikkei 225 Jepang turun 0,70%, sementara Topix yang lebih luas turun 0,4% pada perdagangan awal.
Kinerja Pasar Lain
Kospi Korea Selatan turun sekitar 0,1%, sementara Kosdaq yang berkapitalisasi lebih kecil turun 0,1%. Investor menelaah data harga konsumen Korea Selatan, yang menunjukkan penurunan kenaikan pada bulan April dari bulan Maret. Di Australia, S&P/ASX 200 naik 0,2%. Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di 17.460, setelah HSI ditutup pada 17.763,03.
**Promosi InstaForex**
InstaForex adalah broker terkemuka yang menawarkan layanan perdagangan forex dan CFD yang andal. Dengan platform canggih, spreads kompetitif, dan dukungan pelanggan 24/7, InstaForex memberdayakan trader dari semua level untuk mencapai tujuan perdagangan mereka.
Penurunan Wall Street
Indeks saham Wall Street berakhir dengan beragam pada hari Rabu setelah pertemuan Fed. Dow naik 87,37 poin, atau 0,23%. S&P 500 turun 0,34%, sementara Nasdaq Composite turun 0,33%.
Harga Minyak AS Jatuh
Harga minyak AS turun lebih dari 3% menjadi di bawah $80 per barel pada hari Rabu karena persediaan minyak mentah melonjak di tengah permintaan yang lesu. Kontrak West Texas Intermediate untuk pengiriman Juni turun $2,83, atau 3,45%, menjadi $79,10 per barel, level terendah dalam tujuh minggu. Brent Juli berjangka turun $2,77, atau 3,21%, menjadi $83,56 per barel.