Pertempuran Sudan: Hemedti Janjikan Kembalinya RSF ke Khartoum
Pertempuran Sudan: Hemedti Janjikan Kembalinya RSF ke Khartoum
Pernyataan Hemedti dan Strategi Penarikan Taktis
Komandan Pasukan Pendukung Cepat (RSF) Sudan, Mohamed Hamdan Dagalo, yang juga dikenal sebagai Hemedti, menyatakan bahwa perang melawan angkatan darat Sudan belum berakhir. Dalam sebuah pesan audio yang dirilis melalui Telegram, ia mengakui penarikan pasukan RSF dari Khartoum pekan lalu. Hemedti menyebut penarikan tersebut sebagai keputusan taktis yang diambil oleh kepemimpinan RSF untuk reposisi pasukan di Omdurman. Pernyataan ini merupakan yang pertama kalinya sejak RSF didorong mundur dari sebagian besar wilayah Khartoum oleh angkatan darat. Ia menegaskan bahwa penarikan tersebut merupakan strategi untuk kembali ke Khartoum dengan kekuatan yang lebih besar dan meraih kemenangan.
Konsolidasi Kekuasaan Angkatan Darat Sudan
Sementara itu, angkatan darat Sudan terus mengonsolidasikan kekuasaannya. Pada hari Sabtu, mereka berhasil menguasai pasar utama di Omdurman, kota kembar Khartoum, yang sebelumnya digunakan oleh RSF untuk melancarkan serangan. Omdurman, yang menjadi rumah bagi dua pangkalan militer besar, sebagian besar telah berada di bawah kendali angkatan darat. Tujuan angkatan darat tampaknya adalah mengamankan seluruh wilayah ibu kota, yang terdiri dari tiga kota: Khartoum, Omdurman, dan Bahri, yang dipisahkan oleh cabang-cabang Sungai Nil. Meskipun demikian, RSF masih menguasai beberapa wilayah di Omdurman.
Penolakan Perdamaian dan Eskalasi Konflik
Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, kepala angkatan darat Sudan, telah secara tegas menolak kemungkinan rekonsiliasi dengan RSF dan berjanji untuk menghancurkan kelompok paramiliter tersebut. Pernyataan ini semakin memperburuk situasi dan mengindikasikan bahwa konflik akan terus berlanjut. Perang saudara ini merupakan hasil dari perebutan kekuasaan antara angkatan darat dan RSF menjelang transisi yang direncanakan menuju pemerintahan sipil.
Dampak Perang terhadap Penduduk Sudan
Konflik yang telah berlangsung selama dua tahun ini telah menimbulkan kerusakan yang sangat besar di Khartoum. Lebih dari 12 juta warga Sudan telah kehilangan tempat tinggal mereka dan terpaksa mengungsi. Sekitar setengah dari populasi Sudan, yang berjumlah 50 juta jiwa, menderita kelaparan akut. Jumlah korban jiwa sulit diperkirakan secara pasti, tetapi sebuah studi yang diterbitkan tahun lalu memperkirakan bahwa jumlah korban tewas di negara bagian Khartoum saja mungkin telah mencapai 61.000 jiwa dalam 14 bulan pertama konflik.
Analisis Situasi dan Prospek Masa Depan
Pernyataan Hemedti yang menjanjikan kembalinya RSF ke Khartoum menunjukkan bahwa konflik di Sudan masih jauh dari selesai. Penarikan taktis RSF ke Omdurman mengindikasikan bahwa kelompok ini masih memiliki kemampuan dan niat untuk melancarkan serangan lebih lanjut. Di sisi lain, tekad angkatan darat untuk menghancurkan RSF dan penolakan mereka terhadap rekonsiliasi menunjukkan bahwa konflik ini akan terus berlanjut dan mungkin akan semakin intens. Dampak kemanusiaan dari konflik ini juga sangat mengkhawatirkan, dengan jutaan warga Sudan yang menderita kelaparan dan pengungsian. Situasi ini membutuhkan perhatian internasional yang serius untuk mencegah terjadinya bencana kemanusiaan yang lebih besar. Ke depannya, diperlukan upaya diplomasi yang intensif untuk mencari solusi damai dan mengakhiri konflik yang telah menghancurkan Sudan ini. Namun, dengan adanya pernyataan tegas dari kedua belah pihak, jalan menuju perdamaian terlihat semakin sulit dan penuh tantangan. Masa depan Sudan masih diliputi ketidakpastian dan ancaman konflik yang terus membayangi.