Rencana Deportasi Massal Reform UK: Analisis Kebijakan yang Radikal

Rencana Deportasi Massal Reform UK: Analisis Kebijakan yang Radikal

Reform UK, partai yang dipimpin Nigel Farage, telah meluncurkan rencana kontroversial untuk mendeportasi secara massal pencari suaka dari Inggris. Rencana ini melibatkan penarikan diri dari berbagai perjanjian hak asasi manusia dan kerja sama dengan pemerintah otoriter untuk memulangkan warga negara mereka. Dengan hanya empat kursi parlemen saat ini, namun memimpin dalam banyak jajak pendapat, Reform UK menargetkan deportasi sebanyak 600.000 pencari suaka dalam lima tahun pertama pemerintahannya jika menang pemilu mendatang pada tahun 2029. Ambisi ini akan menjadi upaya paling radikal yang pernah dilakukan oleh negara Eropa dalam menangani imigrasi ilegal.

Asal-usul Angka 600.000

Dari mana angka 600.000 ini berasal? Pemerintah Inggris, baik di bawah pemerintahan Konservatif selama lebih dari satu dekade maupun Partai Buruh di bawah Perdana Menteri Keir Starmer sejak Juli tahun lalu, telah berjuang keras untuk mengatasi masalah pencari suaka yang masuk ke negara tersebut secara ilegal. Para pendukung Brexit berpendapat bahwa meninggalkan Uni Eropa akan membendung imigrasi yang tidak terkendali. Namun, sulit untuk menentukan angka pasti berapa banyak orang yang tinggal tanpa dokumen di Inggris. Reform UK menyatakan ada sekitar 1 juta orang yang berada di negara tersebut secara ilegal—tanpa rincian lebih lanjut—sehingga muncul klaim bahwa mereka dapat mendeportasi hingga 600.000 orang.

Data resmi pemerintah pada Juni 2024 menunjukkan ada 224.742 kasus dalam sistem suaka, sementara kemungkinan masih banyak individu tanpa dokumen lainnya di negara tersebut, seperti mereka yang melewati batas visa kerja dan liburan. Pemerintah khususnya gagal menghentikan orang-orang yang datang ke Inggris dengan perahu kecil dari Eropa. Sejak 2018, lebih dari 179.000 orang telah tiba dengan perahu kecil, menurut data pemerintah, dengan sekitar 4% di antaranya dipulangkan. Lebih dari 28.000 pencari suaka telah menyeberangi Selat Inggris dan tiba di Inggris tahun ini, angka tertinggi sepanjang masa, dan meningkat hampir 50% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Konvensi Internasional yang Akan Ditinggalkan

Farage dan partai-partai sayap kanan serta anggota parlemen lainnya telah lama menyerukan Inggris untuk meninggalkan Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia (ECHR), dengan alasan bahwa konvensi tersebut mencegah deportasi pencari suaka yang tiba secara ilegal ke negara asal mereka atau negara lain. Ketika Mahkamah Agung Inggris memutuskan pada tahun 2023 bahwa skema pemerintah Konservatif saat itu untuk mengirim pencari suaka ke Rwanda tidak sah, Presiden Pengadilan Robert Reed mengatakan ada perjanjian internasional lain yang juga melarang pemulangan pencari suaka ke negara asal mereka tanpa pemeriksaan yang layak atas klaim mereka.

Oleh karena itu, rencana Reform UK mengharuskan Inggris tidak hanya meninggalkan ECHR, tetapi juga "meniadakan" Konvensi Pengungsi, Konvensi Dewan Eropa tentang Aksi Melawan Perdagangan Manusia, Konvensi PBB Menentang Penyiksaan, dan Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik PBB.

Implikasi Penarikan Diri dari Konvensi

Implikasi yang paling signifikan adalah meninggalkan ECHR, yang memberikan jaminan dalam Perjanjian Jumat Agung Irlandia Utara tahun 1998. Perjanjian ini sebagian besar mengakhiri tiga dekade kekerasan dan didukung oleh undang-undang yang menetapkan pengaturan pembagian kekuasaan untuk provinsi Inggris tersebut. Beberapa partai politik kecil di Irlandia Utara mengkritik rencana Reform UK sebagai tindakan sembrono, dan politisi di Amerika Serikat—yang membantu menegosiasikan perjanjian damai tersebut—sebelumnya telah menyatakan keprihatinan tentang perubahan apa pun pada perjanjian tersebut. Farage mengatakan bahwa perjanjian damai tersebut dapat dinegosiasikan kembali, tetapi akan membutuhkan waktu.

Penarikan diri dari konvensi lain akan menempatkan Inggris dalam posisi minoritas di panggung internasional. Lebih dari 170 negara adalah pihak dalam konvensi tentang penyiksaan, termasuk Amerika Serikat dan Rusia. Beberapa pengacara menyarankan bahwa meskipun Inggris mungkin dapat menarik diri dari perjanjian internasional, perlindungan hukum umum Inggris terhadap penyiksaan mungkin berarti pengadilan masih dapat memblokir deportasi.

Seberapa Radikal Kebijakan Ini?

Peter Walsh, seorang peneliti senior di Observatorium Migrasi Universitas Oxford, mengatakan bahwa jika kebijakan Reform UK diterapkan, itu akan menjadi upaya paling radikal yang dilakukan oleh negara Eropa dalam beberapa dekade terakhir untuk menangani imigrasi ilegal, karena akan memerlukan kemauan untuk memulangkan pencari suaka ke negara-negara di mana mereka berisiko disiksa. Ketika ditanya tentang kemungkinan beberapa orang mungkin berisiko disiksa atau dianiaya jika dipulangkan ke negara asal mereka, Farage mengatakan bahwa perhatian utamanya adalah apa yang terjadi di jalanan Inggris, kepada warga negara Inggris.