Fed Mulai Was-Was Sama Inflasi, Siap-siap Denger Berita Kenaikan Suku Bunga

Gimana kabarnya, teman-teman? Lagi pada ngikutin perkembangan ekonomi nggak nih? Kalau iya, pasti tahu dong kalau Bank Sentral Amerika Serikat, atau yang sering kita panggil The Fed, lagi sedikit resah. Kegelisahan ini bukan tanpa sebab, lho. Ternyata, ada kekhawatiran kalau perang di Iran ini bikin inflasi jadi makin panas.

Makanya, bulan lalu banyak banget pejabat The Fed yang ngobrolin kemungkinan buat naikin suku bunga. Bayangin aja, dulu kan kayaknya adem ayem aja, tapi sekarang malah mulai banyak yang ngomongin "persiapan" buat kenaikan suku bunga. Ini jadi sinyal kuat nih, bahwa ketua baru The Fed yang bakal segera menjabat, Kevin Warsh, bakal menghadapi tim yang makin "garang" dalam urusan kebijakan moneter.

Inflasi Jadi PR Besar Buat The Fed

Di pertemuan terakhir mereka tanggal 28-29 April, mayoritas pembuat kebijakan The Fed itu udah ngerasa perlu ada "pengetatan" kebijakan kalau inflasi terus-terusan lari di atas target 2% mereka. Tahu sendiri kan, target inflasi itu kan penting banget buat kestabilan ekonomi. Kalau udah kebablasan, efeknya bisa kemana-mana.

Dalam notulen pertemuan itu, tertulis jelas kalau banyak partisipan yang sebenernya pengen banget ngilangin kalimat di pernyataan pasca-pertemuan yang terkesan punya bias "melonggarkan" kebijakan di masa depan. Maksudnya, mereka nggak mau kedengeran kayak mau nurunin suku bunga terus gitu.

Menariknya nih, notulen pertemuan The Fed ini jadi semacam "cetak biru" perpecahan kebijakan yang paling kentara dalam satu generasi. Ada dua kubu pejabat The Fed yang siap menyambut Warsh. Kubu pertama itu makin besar, mereka yang mulai waspada sama inflasi akibat perang di Iran, dan nggak suka denger isu penurunan suku bunga di masa depan. Sementara kubu kedua, yang jumlahnya makin menyusut, masih condong pengen nurunin biaya pinjaman.

Perang Iran: Pemicu Utama Kegelisahan The Fed

Siapa sih biang kerok utama kegelisahan The Fed ini? Ya, lagi-lagi, masalah inflasi yang dipicu oleh perang yang dipimpin Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Perang yang udah berjalan hampir tiga bulan ini jelas banget naikin harga energi. Nggak cuma itu, tekanan biaya juga merembet ke berbagai macam barang dan jasa. Rasanya kayak semua harga jadi naik gitu, kan?

Dari notulen itu juga kelihatan, pertemuan bulan April, yang jadi pertemuan terakhir dipimpin Jerome Powell, adalah pertemuan kedua berturut-turut di mana lebih banyak pejabat yang ngerasa kenaikan suku bunga bisa jadi pilihan yang tepat kalau inflasi tetap di atas target, dibanding dengan pertemuan sebelumnya. Ini bukan cuma isapan jempol, lho.

Nanti, Kevin Warsh akan dilantik jadi ketua The Fed di Gedung Putih, ditemani langsung sama Presiden Donald Trump yang menunjuknya. Trump sendiri kan emang terang-terangan banget pengen suku bunga turun drastis. Tapi, dari notulen ini kita bisa lihat betapa sulitnya argumen buat kebijakan yang lebih "longgar" itu bisa diterima. Walaupun Trump sendiri belakangan ini juga udah ngademin ekspektasi penurunan suku bunga itu.

Perpecahan Opini di Komite Kebijakan

Federal Open Market Committee (FOMC), badan yang nentuin suku bunga The Fed, bulan lalu memutuskan buat nggak ngubah suku bunga kebijakan jangka pendeknya di kisaran 3.50% sampai 3.75%. Tapi, tahukah kamu? Ada empat pejabat yang nggak setuju! Ini jumlah yang paling banyak sejak tahun 1992, lho.

Dan yang lebih menarik lagi, alasan ketidaksetujuan mereka itu campur aduk. Ada satu pejabat, Gubernur Stephen Miran (yang juga ditunjuk Trump dan bakal ninggalin The Fed pas Warsh masuk), yang nggak setuju justru karena dia pengen suku bunga dipotong.

Sementara tiga pejabat lainnya, mereka nggak setuju gara-gara kalimat di pernyataan kebijakan yang seolah-olah The Fed masih mungkin nurunin suku bunga. Ketiga pejabat ini, dan banyak yang lain juga belakangan ini, nunjukin fakta kalau inflasi udah jauh di atas target 2% The Fed dan kemungkinan bakal makin menjauh dari target itu dalam waktu dekat. Kenapa? Ya gara-gara tekanan harga yang makin lebar akibat perang di Iran tadi.

Dampak Nyata Perang Terhadap Ekonomi

Konflik itu udah bikin harga minyak melonjak lebih dari 50%. Gila nggak tuh? Data inflasi konsumen dan grosir terbaru juga nunjukin kalau tekanan harga udah mulai menyebar ke luar sektor energi. Nggak cuma itu, data tenaga kerja juga ngasih gambaran yang beda. Tingkat pengangguran yang stabil dan penciptaan lapangan kerja yang lebih kuat dari perkiraan selama dua bulan terakhir nunjukin kalau pasar tenaga kerja itu masih kuat dan nggak butuh suku bunga rendah buat ngedongkraknya.

Nah, setelah delapan tahun di bawah kepemimpinan Powell, Warsh bakal memimpin pertemuan The Fed pertamanya pada 16-17 Juni. Kayaknya sih, belum ada tanda-tanda perubahan suku bunga, apalagi penurunan.

Pasar obligasi AS dan global juga makin nunjukkin keyakinan kalau The Fed dan bank sentral top lainnya bakal segera menaikkan suku bunga buat melawan inflasi yang dipicu perang. Coba lihat aja imbal hasil obligasi Treasury AS bertenaga 2 tahun. Angkanya melonjak dari bawah 3.40% pada 27 Februari (sehari sebelum serangan udara AS dan Israel ke Iran) jadi level tertinggi dalam 15 bulan, yaitu di atas 4.10% pada Selasa kemarin.

Oh ya, survei Reuters juga nunjukin pergeseran yang signifikan di kalangan ekonom. Dulu kan mereka optimis banget bakal ada pemotongan suku bunga tahun ini. Sekarang? Kurang dari 50% yang memproyeksikan adanya penurunan di bulan Desember, turun drastis dari dua pertiga bulan sebelumnya. Sekitar setengahnya malah memperkirakan nggak ada perubahan suku bunga tahun ini, dan beberapa responden bahkan mencatat setidaknya ada satu kali kenaikan suku bunga.

Jadi, gimana nih menurutmu? Kelihatannya The Fed lagi di persimpangan jalan yang cukup krusial ya. Kalau kamu yang biasa trading atau investasi, ngerti banget kan pentingnya pantau kebijakan The Fed ini. Nah, buat kamu yang pengen terjun ke dunia trading dan butuh akses ke pasar finansial global buat memantau pergerakan harga aset yang sensitif terhadap kebijakan ini, platform seperti Broker InstaForex bisa jadi pilihan yang tepat buat kamu eksplorasi. Mereka bisa kasih kamu akses ke berbagai pasar yang bisa kamu pantau pergerakannya.

WhatsApp
WhatsApp Community