Ketika Harga-Harga Melonjak: Kenapa Inflasi Bikin Dompet Tipis?

Pernah nggak sih kamu ngerasa, kok kayaknya tiap kali belanja bulanan, daftar belanjaan yang sama harganya jadi makin mahal aja dari waktu ke waktu? Nah, itu dia yang namanya inflasi, kawan. Dan baru-baru ini, datanya nunjukin kalau inflasi kita lagi naik beneran. Di bulan April lalu, inflasi melonjak sampai 3.8%, lho. Ini jadi angka tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir. Bayangin aja, waktu yang dibutuhkan untuk harganya naik sebanyak itu cuma sebentar, dan efeknya terasa banget di kantong kita.

Kenaikan inflasi yang makin kencang ini kayaknya lagi 'menggerogoti' gaji kita dengan cepat. Kalau kita bandingin sama data, di bulan April ini harga-harga naik lebih cepet dibanding gaji. Ini pertama kalinya terjadi sejak tahun 2023 lho. Kalau udah begini, krisis keterjangkauan harga yang udah bikin banyak orang pusing duluan, bisa jadi makin parah. Padahal, pertumbuhan gaji itu sendiri udah melambat lho dalam dua tahun terakhir. Coba inget-inget, di bulan November aja, pertumbuhan gaji masih nyaris 4%. Tapi di laporan ketenagakerjaan April kemarin, pertumbuhannya udah turun jadi 3.6%. Kelihatan kan bedanya?

Kenapa sih inflasi ini jadi masalah besar? Kata Diane Swonk, kepala ekonom di KPMG, inflasi itu kayak "pajak regresif". Artinya, yang paling kena dampaknya itu justru orang-orang yang kemampuannya paling rendah untuk menanggung beban itu. Simpelnya gini, kalau harga barang naik, orang yang punya uang lebih banyak mungkin cuma sedikit bergeser dari mobil mewah ke mobil yang sedikit di bawahnya. Tapi buat orang yang pas-pasan, kenaikan harga bahan bakar aja bisa bikin mereka mikir ulang mau beli bensin atau nggak.

Secara umum, kenaikan inflasi di bulan April itu memang udah diprediksi sama para ekonom. Dari bulan ke bulan, inflasi naik 0.6%. Tapi ada satu lagi yang perlu kita perhatikan, yaitu "inflasi inti". Ini tuh inflasi yang nggak ngikutin harga makanan dan energi. Nah, inflasi inti ini juga naik 0.4% dibanding bulan sebelumnya, menurut data dari Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS). Dan yang bikin agak kaget, kenaikan inflasi inti ini lebih tinggi dari perkiraan banyak ekonom.

Gara-gara Perang dan Energi, Harga Minyak dan Bensin Melambung

Terus, apa sih yang bikin harga-harga ini tiba-tiba melambung tinggi? Salah satu faktor utamanya adalah lonjakan harga energi. Sampai Selasa pagi, harga minyak udah naik lebih dari 70% sejak awal tahun. Gara-gara ini, harga bensin rata-rata jadi $4.50 per galon. Gila kan?

BLS sendiri bilang, kenaikan indeks energi di bulan April itu 3.8 persen, dan itu menyumbang lebih dari 40% dari total kenaikan harga semua item. Jadi, bisa dibilang energi ini biang kerok utamanya. Dan parahnya lagi, menurut catatan dari Citigroup, efek kenaikan harga energi ini belum sepenuhnya terasa ke harga barang-barang lain. Mereka bilang, biaya energi ini baru akan mulai "meresap" ke harga barang-barang inti dalam beberapa bulan ke depan. Waduh, bisa makin parah nih kayaknya.

Nggak cuma minyak dan bensin aja yang naik. Harga-harga lain yang terkait sama pasar energi juga ikut-ikutan. Misalnya, harga tiket pesawat naik 20% dibanding tahun lalu. Kamu tahu kenapa? Karena harga avtur atau bahan bakar pesawat melonjak 60% sejak perang di Iran dimulai. Alhasil, banyak maskapai penerbangan, seperti Delta, United, dan Southwest, terpaksa menaikkan biaya bagasi mereka. Beberapa maskapai internasional juga udah nambahin "surcharge" atau biaya tambahan di tiket. Bahkan, Kantor Pos Amerika Serikat juga udah ngasih tahu bakal ada "perubahan harga sementara" buat nutupin biaya bahan bakar yang membengkak.

Dari Bahan Bakar ke Kebutuhan Pokok: Efek Berantai yang Nggak Terhindarkan

Tapi jangan salah, kenaikan harga ini nggak cuma di sektor transportasi dan energi aja. Laporan terbaru juga nunjukin kalau harga "makanan di rumah", alias harga bahan makanan di supermarket, juga melonjak 0.7% di bulan April. Sementara itu, harga jasa, termasuk transportasi, naik 0.5% dibanding bulan sebelumnya. Lonjakan harga di supermarket ini jadi yang tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir.

Menurut Diane Swonk lagi, kenaikan harga bahan bakar diesel itu "menyentuh hampir segalanya", dan dampaknya langsung kelihatan di rak-rak toko kelontong. Yang lebih parah lagi, kenaikan harga diesel ini terjadi lebih cepat dibanding harga bensin, bahkan sebelum efek kelangkaan barang mulai terasa di rantai pasokan, termasuk untuk pupuk dan pasokan pangan itu sendiri. Jadi, bayangin aja, harga pupuk naik gara-gara bensin mahal, terus harga pangan naik lagi. Lingkaran setan kan?

Ada Sisi Terang di Tengah Gelapnya Inflasi?

Walaupun kedengarannya semua serba mahal, ternyata ada juga kok beberapa barang yang harganya malah turun sedikit. Buat kamu yang lagi incer mobil baru, mungkin ini kabar baik, karena harga mobil baru justru sedikit turun. Selain itu, harga perawatan medis, asuransi kesehatan, dan komunikasi juga mengalami penurunan.

Buat yang lagi cari mobil bekas, harganya relatif stabil di bulan April. Perawatan kendaraan juga sedikit turun. Jadi, nggak semua berita buruk kok. Tapi, secara keseluruhan, Swonk ngasih peringatan, masalah inflasi ini kayaknya bakal "semakin buruk sebelum menjadi lebih baik".

Kebuntuan Selat Hormuz: Ancaman Gelombang Gangguan Rantai Pasokan

Terus, apa sih yang jadi pemicu utama dari semua kekacauan ini? Ternyata, penutupan Selat Hormuz jadi salah satu faktor utamanya. Selat Hormuz ini kan jalur pelayaran yang vital, dilewati lebih dari 20% pasokan energi dunia sebelum perang di Iran. Sejak perang dimulai, lalu lintas kapal di sana jadi sangat sepi.

Swonk menekankan, laporan inflasi hari ini dan isu Selat Hormuz ini nunjukin kalau konsumen bisa terus merasakan efek berantai dari gangguan energi dan rantai pasokan ini. Dan yang bikin ngeri, dampaknya ini bisa bertahan sampai tahun 2027, bahkan kalaupun selat itu dibuka lagi besok. Ini jelas bukan cuma soal harga minyak aja, tapi udah jadi "kejutan energi" yang bikin rantai pasokan dunia jadi jungkir balik, mirip sama gangguan yang kita alami waktu pandemi COVID-19 lalu.

Buat kamu yang tertarik buat memantau pergerakan pasar dan potensi peluang investasi di tengah gejolak ekonomi seperti ini, platform seperti Broker InstaForex bisa jadi salah satu pintu akses ke berbagai pasar keuangan. Dengan akses ke informasi dan berbagai instrumen trading, kamu bisa coba memahami bagaimana fluktuasi harga energi atau isu geopolitik global bisa berdampak pada portofoliomu. Tapi ingat ya, investasi selalu punya risiko, jadi penting banget buat riset dan pahami betul sebelum terjun.

Jadi, kesimpulannya, kenaikan inflasi yang kita alami ini punya akar yang cukup kompleks, mulai dari konflik geopolitik, lonjakan harga energi, sampai gangguan pada rantai pasokan global. Dampaknya nggak cuma terasa di harga-harga kebutuhan pokok, tapi juga merambat ke berbagai sektor lainnya. Gimana nggak pusing coba?

WhatsApp
WhatsApp Community