Ketika Sang Raksasa Bisnis Bicara Pajak dan Kesenjangan

Pernahkah kamu merasa seperti ada dua dunia yang berbeda dalam satu negara? Di satu sisi, ada orang-orang yang kelihatannya sukses luar biasa, segala sesuatunya berjalan lancar. Tapi di sisi lain, banyak juga yang berjuang mati-matian hanya untuk bertahan. Nah, baru-baru ini, Jeff Bezos, pendiri Amazon yang sekarang menjabat sebagai Executive Chair, mengemukakan pandangannya tentang isu ini, dan yang menarik, ia menyoroti bagaimana para politisi seringkali menggunakan isu pajak orang super kaya sebagai alat politik.

Menurut Bezos, fokus berlebihan pada menaikkan pajak bagi orang-orang seperti dirinya justru bisa mengalihkan perhatian dari masalah-masalah ekonomi yang lebih mendasar yang dihadapi negara. Ia memberikan contoh yang cukup gamblang di sebuah acara televisi, "Kamu bisa saja menggandakan pajak yang saya bayar, dan itu tidak akan membantu guru di Queens." Pernyataan ini memicu respons cepat dari Walikota New York, Zohran Mamdani, yang membalas melalui media sosial, "Saya kenal beberapa guru di Queens yang akan sangat berbeda pendapat."

Bezos sendiri mengakui bahwa kesenjangan pendapatan adalah isu serius yang perlu diperhatikan. Namun, ia berpendapat bahwa menaikkan pajak bagi kalangan kaya bukanlah solusi utama. Ia melihat adanya "cerita dua ekonomi," di mana ada segelintik orang yang sangat prosper, sementara mayoritas lainnya masih berjuang. "Apa yang terjadi di sini adalah politisi menggunakan teknik klasik... kamu tahu, mencari kambing hitam dan menuding jari, tapi masalahnya adalah itu tidak menyelesaikan apa pun," katanya. Ia bahkan menyarankan agar fokusnya bukan pada membuat sistem pajak lebih progresif, melainkan pada bagaimana agar seorang perawat di Queens tidak perlu membayar pajak sama sekali.

Ini tentu saja memunculkan pertanyaan menarik, jenis pajak apa sebenarnya yang dimaksud Bezos? Dan seberapa besar dampak kenaikan pajak bagi orang kaya terhadap masyarakat luas? Data menunjukkan bahwa di Amerika Serikat, cukup banyak rumah tangga yang bahkan tidak perlu membayar pajak penghasilan pribadi. Menurut Tax Policy Center, sekitar 40% rumah tangga tidak diwajibkan membayar pajak penghasilan pribadi untuk tahun pajak 2024. Ini bukan fenomena baru dan sejalan dengan data-data sebelumnya. Bayangkan, dengan rata-rata pendapatan sekitar $53.801 per tahun di tahun 2023 untuk 50% pembayar pajak terbawah, mereka sudah merasakan beban finansial yang signifikan. Sementara itu, Bezos sendiri, dengan kekayaan bersih lebih dari $270 miliar, menduduki peringkat keempat orang terkaya di dunia.

Meskipun Bezos menganggap perdebatan mengenai tarif pajak itu valid, wawancaranya yang dilakukan di Florida ini kerap kali merujuk pada situasi keuangan di New York City. Di sana, Walikota Mamdani memang dikenal sebagai sosok yang cukup vokal dalam menyuarakan kebijakan yang lebih membebani para miliarder dan jutawan sejak ia menjabat. Bezos sendiri sebenarnya tinggal di Miami, namun perusahaan-perusahaannya berkantor pusat di negara bagian Washington. Mamdani, seorang sosialis demokrat, telah meningkatkan profil nasionalnya sebagian berkat advokasinya untuk pajak yang lebih tinggi bagi kaum kaya.

Reaksi Pasar dan Kebijakan Pajak di New York

Para miliarder dan agen properti kelas atas sempat memperingatkan bahwa kemenangan Mamdani dan kebijakan-kebijakannya akan membuat bisnis dan orang-orang kaya meninggalkan New York City. Namun, bukti-bukti awal justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Sekitar sebulan sebelum Mamdani terpilih, JPMorgan Chase meresmikan kantor pusat global barunya di 270 Park Avenue. Ini bisa menjadi sinyal bahwa salah satu pemberi kerja terbesar di New York tidak berencana hengkang dalam waktu dekat.

Yang lebih menarik lagi, pasar apartemen mewah di Manhattan justru mengalami lonjakan pasca Mamdani terpilih. Kontrak pembelian unit senilai $4 juta atau lebih melonjak 25% pada bulan November setelah pemilihannya. Tren positif ini terus berlanjut dalam beberapa bulan berikutnya, dengan kontrak penjualan pada Mei meningkat 10% dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan di segmen yang lebih mewah lagi, unit-unit senilai lebih dari $10 juta, penjualannya melonjak drastis hingga 80% pada bulan Mei dibandingkan tahun sebelumnya.

Tak berhenti di situ, pada bulan Februari, American Express mengumumkan bersama Mamdani bahwa mereka akan membangun kantor pusat global baru di pusat kota Manhattan yang akan menampung lebih dari 10.000 karyawan. Ini jelas bukan tanda-tanda orang kaya dan bisnis akan kabur.

Pajak "Pied-à-terre" dan Respons Para Miliarder

Namun, pada Hari Pajak, Mamdani justru mengunggah video viral di media sosial. Dalam video tersebut, ia berdiri di depan sebuah gedung mewah di 220 Central Park South, yang dikenal sebagai "Billionaires Row," dan menyatakan, "Kami mengenakan pajak pada orang kaya." Mamdani mengumumkan usulan pajak "pied-à-terre," yang akan dikenakan pada pemilik properti residensial yang tidak tinggal di kota tersebut sepanjang waktu. Video ini menampilkan berbagai gedung mewah di Manhattan, tetapi secara spesifik menyoroti Ken Griffin, seorang miliarder yang membeli penthouse di gedung tersebut seharga $238 juta pada tahun 2019. Pembelian ini tercatat sebagai penjualan rumah pribadi termahal di Amerika Serikat. Griffin, dengan kekayaan bersih hampir $50 miliar, tidak tinggal diam.

Griffin membalas ancaman Mamdani dengan mengisyaratkan akan mengubah rencana pembangunan menara kantor baru perusahaannya di Manhattan. Ia juga menuduh Mamdani secara pribadi telah membahayakan dirinya dengan menampilkan gedung tersebut dalam video. Ia bahkan mengaitkannya dengan kasus pembunuhan CEO UnitedHealthcare, Brian Thompson, di midtown Manhattan pada tahun 2024. Namun, perlu diingat, pembelian rumah Griffin dan alamatnya sudah diberitakan luas oleh media sejak 2019, jauh sebelum Mamdani menjadi kandidat walikota.

Meskipun ada ancaman, Griffin sendiri mengakui dalam wawancara terpisah di CNBC baru-baru ini bahwa ia "kemungkinan besar" akan tetap melanjutkan pembangunan menara kantor barunya.

Sentimen Publik dan Tren Pajak di Berbagai Negara Bagian

Pendekatan umum Mamdani dalam hal perpajakan ternyata tidak sepenuhnya tidak populer. Sebuah jajak pendapat Fox News pada bulan April menemukan bahwa, "Yang paling mengganggu orang tentang pajak penghasilan federal adalah orang kaya tidak membayar cukup." Tren ini juga terlihat di berbagai negara bagian lainnya. Negara bagian Washington telah menyetujui pajak untuk kaum jutawan. Negara bagian lain seperti Massachusetts, Maryland, dan Maine juga telah mengesahkan pajak khusus untuk kalangan berpenghasilan tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Gubernur Rhode Island pada bulan Januari mendukung gagasan pajak jutawan, dan para anggota dewan di Connecticut, Illinois, Colorado, dan California juga telah mengusulkan ide serupa.

Di tingkat federal, kenaikan pajak besar kemungkinan masih sulit terwujud selama Partai Republik menguasai Dewan Perwakilan Rakyat, Senat, dan Gedung Putih.

Fenomena ini menunjukkan bahwa diskusi tentang pajak, kekayaan, dan kesenjangan ekonomi memang kompleks dan multi-dimensi. Perdebatan antara pengusaha besar seperti Bezos dan politisi seperti Mamdani mencerminkan tarik-menarik kepentingan dan pandangan yang berbeda tentang bagaimana seharusnya distribusi kekayaan dan tanggung jawab fiskal dalam masyarakat modern. Dan bagi kita yang tertarik untuk turut serta dalam pergerakan pasar keuangan global, memahami konteks ekonomi dan kebijakan seperti ini bisa menjadi wawasan berharga. Platform seperti Broker InstaForex, misalnya, dapat memberikan akses bagi para trader untuk memantau dan berpartisipasi dalam pasar global yang dipengaruhi oleh dinamika-dinamika ekonomi semacam ini.

WhatsApp
WhatsApp Community